POTRET GARIS DEPAN

Anak-Anak Perbatasan Kalbar Belajar di Bawah Lampu Minyak, Pemerintah Janjikan Listrik Tahun Depan

Anak-Anak Perbatasan Kalbar Belajar di Bawah Lampu Minyak, Pemerintah Janjikan Listrik Tahun Depan

Di Dusun Sei Mengkirai, Entikong, Kalimantan Barat, belasan anak perbatasan belajar di bawah lampu minyak karena belum terjangkau listrik. Pemerintah kabupaten berjanji memasang jaringan listrik tahun depan, namun generator bantuan TNI masih terbatas akibat kekurangan solar. Meski fasilitas pendidikan minim, semangat belajar anak-anak dan cita-cita mereka tetap menyala di ujung negeri.

Malam turun perlahan di Dusun Sei Mengkirai, Kecamatan Entikong, Kalimantan Barat. Di sebuah sekolah dasar yang hanya berjarak 200 meter dari pos pemeriksa lintas batas, 15 anak duduk berdesakan di bangku kayu usang. Lampu minyak menyala redup di setiap meja, menerangi wajah-wajah serius yang sesekali mengusap mata perih akibat asap. Suara Pak Agus—satu-satunya guru di sekolah itu—mengalun pelan, membimbing murid-muridnya belajar di tengah gelap yang nyaris menyelimuti ruang kelas.

Belajar di Bawah Lampu Minyak: Potret Kelas di Garis Depan Kalbar

Papan tulis hitam di dinding sudah retak. Namun semangat anak-anak perbatasan Kalbar tidak goyah. Pak Agus mengisahkan, pembelajaran sengaja digelar pada pukul 18.00 hingga 19.00 WIB. “Kalau malam, kami terpaksa belajar jam 6–7 sore, karena lampu minyak tidak kuat terang sampai larut,” ujarnya kepada tim Lensa-Teritorial. Waktu yang singkat itu dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk mengeja kata, berhitung, dan mengenal Indonesia dari buku-buku sederhana.

Berada di garis terdepan Indonesia, fasilitas pendidikan di Dusun Sei Mengkirai masih jauh dari kata layak. Kondisi itu terlihat dari beberapa fakta di lapangan:

  • Sekolah dasar hanya berjarak 200 meter dari pos pemeriksa lintas batas, tetapi belum terjangkau jaringan listrik.
  • 15 anak belajar di bangku kayu usang dengan penerangan lampu minyak di setiap meja.
  • Hanya ada satu guru, Pak Agus, yang mengajar semua mata pelajaran di tengah keterbatasan.
  • Papan tulis hitam yang digunakan sudah retak dan tidak layak untuk menulis dengan jelas.
  • Generator portable bantuan TNI hanya bisa digunakan beberapa jam sehari karena kekurangan solar.

Janji Listrik dan Semangat yang Tak Padam

Pemerintah kabupaten berjanji memasang jaringan listrik pada pertengahan tahun depan. Janji itu tentu membawa harapan besar bagi warga dan anak-anak di Sei Mengkirai. Namun, hingga saat ini, ketergantungan pada generator portable sumbangan TNI masih menjadi kenyataan pahit. Bantuan solar yang terbatas membuat aliran listrik hanya menyala hitungan jam, tidak cukup untuk menerangi sekolah dan rumah warga sepanjang malam.

Di tengah segala keterbatasan, anak-anak tetap menyimpan cita-cita sederhana. Sebagian ingin menjadi polisi, sebagian lainnya bercita-cita menjadi guru seperti Pak Agus. Mereka tidak menuntut banyak—hanya ingin seberkas cahaya yang cukup untuk belajar, dan keyakinan bahwa negara ini hadir di ujung negerinya. Ketika ditanya tentang masa depan, mata mereka berpendar oleh ketekunan. Lampu minyak boleh redup, tetapi semangat mereka menyala terang.

Pendidikan di perbatasan bukan sekadar soal angka dan gedung, melainkan wajah kedaulatan bangsa. Listrik yang dijanjikan pemerintah harus benar-benar diwujudkan, bukan hanya menjadi kabar manis di atas kertas. Anak-anak Dusun Sei Mengkirai adalah bukti bahwa di pelosok Kalbar, di bawah cahaya lampu minyak yang berkedip, rasa cinta tanah air tetap tumbuh. Sudah saatnya kita menyalakan masa depan mereka—dengan kabel, dengan perhatian, dan dengan kehadiran negara yang tidak pernah memadamkan harapan.

Pendidikan Listrik Perbatasan
Tokoh: Pak Agus
Organisasi: Pemerintah Kabupaten, TNI
Lokasi: Dusun Sei Mengkirai, Kecamatan Entikong, Kalbar

Artikel terkait