Perahu kayu itu meluncur lambat di perairan mendung Desa Sungai, Nunukan, Kalimantan Utara. Di balik kemudi, Raina—guru honorer Nunukan berusia 27 tahun—menjaga laju perahu motor menuju Sekolah Dasar 010 Long Midang di seberang sungai. Kabut pagi masih menggantung tebal, mengaburkan dermaga kecil yang ditinggalkannya. Udara lembap bercampur asap mesin tempel; suara putaran baling-baling memecah kesunyian. Ia hafal setiap riak dan arus, hafal tikungan sungai yang berkelok di antara pepohonan bakau. Rasa was-was saat cuaca buruk tak pernah benar-benar pergi. Di kejauhan, bendera Merah Putih mulai terlihat berkibar di tiang bambu—penanda bahwa semangat belajar tak pernah padam.
Perjalanan itu menempuh satu jam dari ibu kota kabupaten menuju sekolah yang berbatasan langsung dengan Tawau, Sabah, Malaysia. Sudah ratusan kali perahu ini melintas, dan anak-anak di seberang selalu menunggu. “Kalau cuaca buruk, kami harus menahan perahu dan menunggu ombak reda. Anak-anak tetap menunggu di sekolah,” ungkap Raina datar, seperti menuturkan kisah biasa. Matanya menyapu cakrawala mencari tanda-tanda angin kencang. Di musim hujan, air sungai naik dan arus semakin deras. Namun Raina tak pernah mengeluh. Ia hanya menggeser jadwal, kadang berangkat lebih pagi, kadang pulang lebih sore.
Menembus Kabut Perbatasan Nunukan
Namun perjuangan Raina tidak berhenti pada arus. Sekolahnya hidup dalam keterbatasan yang berdiri di depan mata:
- Infrastruktur: tiga ruang kelas, satu beratap seng bocor; meja-kursi usang, papan tulis hitam pudar.
- Listrik dan sinyal: listrik menyala hanya malam hari, tidak stabil; sinyal telepon sangat lemah—hanya muncul di dekat perbatasan.
- Transportasi: akses satu-satunya perahu motor; jika mesin rusak, Raina mendayung atau menunggu perahu lain. Bensin dibeli di kota, harga lebih mahal karena ongkos angkut.
- Kesejahteraan: gaji guru honorer Nunukan jauh di bawah Upah Minimum Provinsi, tetapi ia bertahan demi anak-anak dan mimpi mereka agar tidak tertinggal.
Di ruang guru yang sempit, Raina menyusun rencana pelajaran di bawah cahaya lampu minyak tanah. Ia membawa buku-buku dari perpustakaan kabupaten, kadang juga krayon dan kertas gambar hasil sumbangan teman-temannya di media sosial. “Anak-anak di sini sangat antusias belajar. Mereka tidak punya banyak mainan, jadi buku adalah jendela dunia mereka,” katanya sambil merapikan tumpukan kertas. Sekolah sederhana ini memang berdiri di garis depan, tetapi di dalamnya ada semangat yang tak tersentuh kabut.
Merah Putih Tetap Berkibar, Semangat Tak Pernah Padam
Menjelang siang, kabut mulai meninggi dan bendera Merah Putih makin jelas berkibar di tiang bambu. Dari balik jendela ruang kelas, suara anak-anak mengeja kata demi kata terdengar sayup-sayup. Raina berjanji akan kembali esok pagi, mengulang rute yang sama. Baginya, menjadi guru honorer di Nunukan bukan sekadar pekerjaan; ia memilih untuk menjaga nama Indonesia di tempat yang tak pernah ramai disebut. Ia ingin anak-anak perbatasan membaca dunia, bahkan ketika dunia sulit menjangkau mereka.
Di ujung negeri, semangat belajar tidak padam. Perjuangan Raina adalah cermin bahwa Indonesia tidak berhenti di ibu kota; ia tetap berdenyut di sungai-sungai kecil, di ruang kelas beratap bocor, dan di hati anak-anak yang menunggu gurunya menembus kabut.