Pagi masih menyisakan kabut tipis di Pulau Sebatik, Nunukan, Kalimantan Utara, saat Pak Joni (52) mengayuh sepeda tuanya melintasi jalan setapak berbatu menuju lahan bekas ladang sawit Malaysia. Di tangannya, cangkul usang dan segenggam bibit singkong menjadi perlengkapan utama ia melawan kerasnya tanah kritis. Di kejauhan, asap tipis dari cerobong pabrik pengolahan sawit Malaysia tampak samar menembus udara dingin — pengingat betapa dekatnya perbatasan ini dengan kehidupan sehari-hari warga. Rumput liar dan alang-alang setinggi pinggang seolah menjadi benteng pertama yang harus ia taklukkan setiap pagi, sebelum akhirnya menanam singkong di atas sisa-sisa akar sawit yang mengeras. Suara burung dan desau angin dari Selat Sebatik menjadi satu-satunya irama yang menemani langkahnya di ujung negeri ini.
Pertaruhan di Lahan Bekas Sawit Malaysia
Dengan telaten, Pak Joni mencangkul setiap gundukan tanah, membalik sisa akar sawit yang mengeras. Ia bercerita bahwa tanah bekas perkebunan sawit sangat keras dan asam, penuh zat sisa pupuk kimia yang membuat tanaman layu. "Kalau langsung ditanami singkong, pasti layu. Makanya harus dibajak dalam-dalam, dikasih pupuk kandang bertahun-tahun agar subur lagi," ujarnya sambil mengusap keringat yang membasahi dahi. Setelah membersihkan rumput, ia mulai menggali lubang tanam dengan jarak rapi, memasukkan bibit singkong, lalu menutupnya dengan tanah. Di kejauhan, tampak pita pagar perbatasan yang memisahkan Indonesia dan Malaysia hanya beberapa puluh meter — sebuah pengingat bahwa ia bekerja di wilayah paling ujung negeri.
- Lahan yang digarap Pak Joni adalah bekas ladang sawit milik warga Malaysia seluas sekitar setengah hektar, ditinggalkan karena produktivitas turun drastis.
- Tanah di lokasi ini mengandung residu pupuk kimia dan herbisida, sehingga perlu waktu 2–3 tahun pemulihan dengan pupuk organik.
- Pak Joni menggunakan bibit singkong lokal yang tahan tanah kritis, seperti varietas gajah dan mentega.
- Hasil panen singkong nantinya dijual ke pasar Nunukan atau diolah menjadi gaplek untuk bertahan selama musim hujan.
Harapan di Ujung Negeri
Bagi Pak Joni, menanam singkong di sela-sela keterbatasan bukanlah sekadar pekerjaan. Dari hasil ladang inilah ia menghidupi tiga anaknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar dan menengah. "Biaya sekolah mereka lumayan, tapi saya tidak mau menyerah. Tanah ini bisa subur lagi kalau kita rawat dengan sabar," katanya dengan senyum tak lekang oleh panas. Di sekitar lahan, hanya terdengar suara burung dan desau angin dari Selat Sebatik. Tidak ada irigasi modern, apalagi alat pertanian berat. Yang ada hanyalah cangkul, sabit, dan semangat yang membara. Warga lain di desa pun mulai meniru — mengubah lahan tidur bekas sawit asing menjadi kebun singkong dan sayuran.
Pemandangan setiap pagi di sepetak lahan ini adalah saksi bisu ketangguhan petani perbatasan. Tangan-tangan kasar Pak Joni yang terus membalik tanah, butiran keringat yang jatuh di atas bibit, dan asap pabrik Malaysia yang tetap mengepul di horizon — semuanya menjadi potret nyata perjuangan di Pulau Sebatik. Tanpa subsidi besar, tanpa teknologi tinggi, petani perbatasan tetap bertahan, membuktikan bahwa tanah yang dianggap mati pun bisa hidup kembali dengan ketekunan dan cinta tanah air. Di ujung negeri ini, setiap helai daun singkong yang tumbuh adalah simbol perlawanan terhadap kepahitan dan keterbatasan, sekaligus harapan bahwa Indonesia tetap berdaulat dari ladang-ladang kecil yang dirawat oleh tangan-tangan gigih warganya.