Gelap yang tak tertanggungkan menyelimuti dermaga kecil di Selaru, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku, saat matahari menghilang di ufuk barat. Dermaga ini, yang menjadi pintu masuk dan keluar bagi banyak nelayan, hanya disinari oleh lampu-lampu sengak dari perahu-perahu yang bersandar. Mercusuar yang berdiri kokoh di tepian hanyalah sebuah monumen tanpa fungsi; matanya tidak pernah berkedip untuk menyambut pulang para penjelajah laut. Ini adalah potret infrastruktur vital yang terabaikan di Tanimbar, wilayah perbatasan Indonesia yang jauh dari sorotan.
Berlayar dengan Ingatan dan Naluri: Survival di Laut Tanimbar
Di tengah kegelapan itu, Yunus, seorang nelayan dengan wajah yang diukir oleh garis-garis keras kehidupan laut, sedang mengikat tali perahunya yang basah. "Kami sudah terbiasa," katanya, namun suaranya mengandung beban yang lebih berat dari hanya sekadar rutinitas. Para nelayan seperti Yunus tidak memiliki listrik penerangan di pelabuhan sebagai penuntut; mereka mengandalkan ingatan yang melekat pada setiap karang, lekuk pantai, dan pola angin yang telah mereka hafal sejak muda. "Tapi bahaya selalu ada," tambahnya, dengan nada yang mengungkapkan keprihatinan terhadap generasi penerus. "Anak muda yang belum hafal seluk-beluk perairan ini, bisa celaka." Kondisi ini bukan hanya tentang ketiadaan lampu, tetapi tentang risiko nyawa yang harus dihadapi setiap hari oleh warga di garis depan.
- Nelayan bergantung pada ingatan dan naluri untuk navigasi di malam hari.
- Proyek lampu penerangan pelabuhan yang dijanjikan dua tahun lalu masih berupa tiang-tiang beton tanpa kabel dan panel surya.
- Dokumen perencanaan proyek telah lusuh dimakan udara laut, tanpa kejelasan waktu penyelesaian.
- Di perairan lepas, lampu kapal-kapal asing berkelap-kelip, kontras dengan gelapnya dermaga Indonesia sendiri.
Tiang Beton dan Janji yang Mengambang: Potret Infrastruktur yang Terhenti
Seorang petugas pelabuhan setempat menunjukkan dokumen perencanaan yang sudah lusuh, simbol dari janji yang tertunda dan mungkin terlupakan. "Tidak ada klarifikasi kapan akan selesai," ia mengatakan, sambil menunjuk ke menara mercusuar yang gelap itu. Tiang-tiang beton berdiri sebagai bukti fisik dari proyek yang terhenti, sementara kebutuhan warga untuk penerangan yang aman terus membara. Di kejauhan, di perairan lepas, cahaya dari kapal-kapal asing tampak berkilauan, sebuah ironi yang menusuk hati: wilayah perbatasan kita sendiri, tempat para nelayan Tanimbar berjuang, dibiarkan dalam kegelapan.
Kondisi ini bukan sekadar masalah teknis; ini adalah refleksi dari bagaimana perhatian kepada wilayah tepian negeri kadang terasa jauh. Warga Selaru, dan banyak wilayah perbatasan lainnya, hidup dengan ketangguhan luar biasa, namun juga dengan harapan bahwa infrastruktur dasar seperti listrik penerangan pelabuhan akan terwujud, untuk menjamin keselamatan dan mendukung kegiatan ekonomi mereka. Mereka adalah garda terdepan di ujung negeri, yang setiap hari mengibarkan bendera Indonesia melalui kerja keras dan ketahanan mereka di laut.
Ketika kita melihat cahaya dari kapal-kapal asing di perairan lepas, kita harus ingat cahaya yang seharusnya ada di dermaga kita sendiri. Kepedulian terhadap kondisi riil di garis depan seperti Tanimbar adalah bagian dari semangat kebangsaan kita. Mendukung pembangunan infrastruktur di wilayah perbatasan bukan hanya tentang proyek fisik; itu adalah tentang menghormati dan menjaga kehidupan warga yang dengan gigih menjaga identitas dan keberadaan Indonesia di titik-titik terjauhnya. Mereka berlayar dalam gelap, tetapi semangat mereka adalah cahaya yang tak pernah padam bagi negeri.