SUARA PERBATASAN

Nafas Sesak dan Air yang Menjauh di Bawah Kabut Papua

Nafas Sesak dan Air yang Menjauh di Bawah Kabut Papua

Kebakaran hutan dan asap pekat di Distrik Ilwayab, Merauke, Papua Selatan, memangkas jarak pandang hingga 200 meter dan memicu lonjakan gangguan pernapasan di Puskesmas Manokwari Selatan. Warga terpaksa menempuh delapan kilometer untuk mendapatkan air bersih, sementara kebun sagu hangus dan penerbangan perintis dibatalkan. Di tengah kesulitan air dan udara, warga di ujung negeri tetap bertahan dengan harapan yang menyala.

Kabut putih-kelabu pekat menyelimuti Distrik Ilwayab, Merauke, Papua Selatan, memangkas jarak pandang hingga 200 meter. Udara malam yang biasanya sejuk terasa panas dan menyesakkan — seolah langit menahan napas. Bau hangus bercampur asap kebakaran hutan menyengat di setiap sudut kampung. Di bawah langit kelabu itu, warga bergerak seperti siluet yang beringsut tanpa arah; sesekali berhenti untuk mengusap mata perih dan menahan batuk yang tak kunjung reda. Inilah potret garis depan yang kini berjuang bukan hanya melawan jarak, tetapi juga udara yang berubah menjadi sesak.

Potret Garis Depan: Sesak yang Menjadi Keseharian

“Sampai masyarakat setengah mati,” ujar Yonas, warga Ilwayab, dengan suara parau melalui sambungan telepon. Asap karhutla kali ini jauh lebih pekat dan menyiksa dibanding tahun-tahun sebelumnya. Malam hari berubah menjadi mimpi buruk: batuk-batuk bersahutan terdengar dari rumah-rumah panggung, anak-anak terbangun dengan mata merah perih, dan lansia terengah-engah mencari napas. Udara yang dulu sederhana kini menjadi barang langka di garis depan.

Air Menjauh, Sagu Hangus: Luka di Bawah Kabut Papua

Sesak di dada bukan satu-satunya perjuangan. Sumber air yang selama ini dekat dengan permukiman mulai menghilang ditelan kekeringan dan sisa-sisa api. Kebun sagu yang menjadi lumbung pangan warga ikut dilalap si jago merah, sementara tanah hangus terlalu kering untuk ditanami sayur. Untuk mendapatkan air bersih, warga harus menempuh jarak delapan kilometer dengan berjalan kaki atau menaiki motor. Mereka berangkat memikul jerigen kosong, lalu kembali dengan beban berat yang menggantung di pundak — sebuah ritual baru yang lahir dari kesulitan air di bawah kabut Papua.

Luka yang sama tercatat di fasilitas kesehatan. Puskesmas di Manokwari Selatan mencatat lonjakan pasien gangguan pernapasan sejak Agustus: 231 orang, termasuk balita dan lansia. Mereka datang dengan keluhan sesak, batuk berkepanjangan, dan iritasi mata. Deretan angka itu bukan sekadar statistik — ia adalah suara napas tersengal dari warga yang bertahan di ujung negeri.

Di sektor transportasi, isolasi semakin dalam. Papan keberangkatan di bandara dipenuhi tulisan “dibatalkan” atau “tertunda”. Penerbangan perintis yang menjadi nadi penghubung warga pedalaman berhenti beroperasi karena jarak pandang terlalu rendah untuk lepas landas. Kondisi di garis depan ini dapat dilihat dari beberapa fakta berikut:

  • Jarak pandang menyusut hingga 200 meter di Distrik Ilwayab, Merauke, Papua Selatan.
  • Warga menempuh delapan kilometer untuk mencari air bersih karena sumber air terdekat terdampak kebakaran hutan.
  • Kebun sagu habis dilalap api, memicu kelangkaan bahan pangan bagi keluarga di pedalaman.
  • Puskesmas Manokwari Selatan mencatat 231 pasien gangguan pernapasan sejak Agustus.
  • Penerbangan perintis dibatalkan atau tertunda akibat kabut asap, memperlambat distribusi bantuan.

Malam semakin larut, tetapi asap belum juga pergi. Di bawah kabut Papua yang kelabu, warga Ilwayab dan sekitarnya bertahan dengan napas yang tersengal dan harapan yang tetap menyala. Mereka adalah penjaga garis depan yang tidak sendiri; Indonesia harus hadir di sana. Sudah sepantasnya kita semua menoleh dan bergerak — karena ketika saudara-saudara kita di perbatasan kesulitan air dan udara, maka Indonesia sedang menahan napas bersama mereka.

karhutla kabut asap krisis air bersih gangguan pernapasan
Tokoh: Yonas
Organisasi: Puskesmas
Lokasi: Ilwayab, Merauke, Papua Selatan, Manokwari Selatan, Papua

Artikel terkait