Fajar baru saja merekah di ufuk timur, menyapu langit Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Namun, bumi perbatasan ini sudah lebih dulu bergeming oleh keriuhan yang tidak biasa. Di Pasar Sehati, sebuah pasar tradisional yang berdiri tepat di garis pemisah dua negara, para pedagang dari Indonesia dan Malaysia sudah sibuk menata dagangan mereka. Los-los sederhana dari kayu dan terpal biru berjejer rapi; aroma sayur-mayur segar bercampur ikan asin dan rempah-rempah menyeruak, memenuhi setiap sudut udara pagi. Bahasa Indonesia dan Melayu Sarawak saling bersahutan, menyela dalam tawar-menawar yang ramah dan penuh tawa. Di sini, batas negara nyaris tak terasa: yang ada hanyalah hubungan kekerabatan dan denyut ekonomi yang menyatukan warga dari dua sisi perbatasan.
Potret Dinamika Lintas Batas di Pasar Sehati
Ibu Siti, seorang pedagang buah asal Tebas, Malaysia, dengan cekatan menata durian dan rambutan di atas meja kayu lapuk. Di seberang los, Pak Joni dari Entikong menjajakan cabai merah dan terong yang baru dipetik dari kebunnya. Mereka sudah saling kenal bertahun-tahun; setiap pagi mereka bertemu di pasar ini, bertukar cerita dan barang dagangan. Transaksi tidak hanya terjadi dengan mata uang rupiah atau ringgit, melainkan juga dengan sistem barter sederhana yang sudah diwariskan turun-temurun—sebuah praktik yang memperkuat ikatan sosial di antara komunitas perbatasan. Berikut kondisiriil yang kami temui di lapangan:
- Infrastruktur pasar: Los-los semi permanen berlantai tanah dengan penerangan alami dari sinar matahari. Tidak ada listrik penuh, namun semangat warga membuat pasar tetap hidup dan ramai.
- Petugas keamanan: Polisi Perbatasan Polda dan Imigrasi berjaga di pos terdekat, memastikan keramaian tetap tertib tanpa menimbulkan ketegangan. Kehadiran mereka lebih sebagai simbol pengayom, bukan penghalang.
- Suara warga: “Kami sudah seperti saudara,” ujar Pak Joni sambil menyerahkan segenggam cabai kepada Ibu Siti. “Perbatasan hanya di peta, di sini kami satu keluarga.”
Kehidupan Garis Depan yang Menyatukan, Bukan Memisahkan
Di balik transaksi harian, Pasar Sehati menyimpan cerita yang lebih dalam. Ada kisah tentang keluarga yang terpisah oleh garis imajiner peninggalan kolonial, yang tetap menjaga silaturahmi justru melalui kegiatan perdagangan lintas batas. Anak-anak bermain kejar-kejaran di pinggir pasar, tak peduli apakah mereka warga negara Indonesia atau Malaysia. Mereka berlari di sepanjang batas imajiner—sebuah pemandangan yang mengharukan sekaligus membanggakan di tengah denyut kehidupan warga yang saling bergantung. Saat matahari mulai naik tinggi, pasar perlahan sepi. Para pedagang mulai mengemas sisa barang, berpamitan dengan jabat tangan hangat, lalu kembali ke rumah mereka masing-masing di seberang perbatasan. Pasar ini tutup, tetapi akan kembali dibuka esok pagi, menjadi bukti nyata bahwa kehidupan warga di garis depan bisa berjalan damai dan saling menguntungkan.
Pasar Sehati bukan sekadar tempat bertemunya penjual dan pembeli; ia adalah cermin kecil dari Indonesia yang berdaulat dan bersaudara. Di ujung negeri ini, di antara rimbunnya hutan Kalimantan dan kokohnya pos-pos keamanan, semangat gotong royong tetap hidup dalam setiap tawar-menawar dan tawa yang berbaur. Saat kita menatap peta, garis perbatasan terlihat tegas dan tegas. Namun di lapangan, di Pasar Sehati, batas itu luluh oleh kehangatan manusia yang memilih untuk saling merawat. Sudah sepatutnya kita menaruh perhatian lebih kepada saudara-saudara di garis depan—bukan sekadar menjaga kedaulatan, tetapi juga memastikan denyut kehidupan mereka terus berdetak dengan damai, sejahtera, dan penuh rasa bangga menjadi bagian dari Indonesia.