SUARA PERBATASAN

Penyelesaian Masalah Perbatasan Naktuka dan Citrana Harus Kedepankan Jalur Diplomasi

Penyelesaian Masalah Perbatasan Naktuka dan Citrana Harus Kedepankan Jalur Diplomasi

Potret diplomasi di Dili antara delegasi NTT dan Timor Leste berakar dari realitas kehidupan sosial-ekonomi warga di titik sengketa Naktuka (Kupang) dan Citrana (Oecusse). Jalur dialog dan kerja sama lintas batas diprioritaskan untuk menjaga stabilitas dan kesejahteraan masyarakat di kedua sisi perbatasan, mencerminkan pendekatan penyelesaian konflik yang mengedepankan persaudaraan dan kepentingan riil warga garis depan.

Angin kering membawa debu kemerahan melintasi Lapangan Tasitolu di Dili, menari-nari di antara bayang-bayang tiang bendera Timor Leste yang berkibar penuh semangat. Di tengah kerumunan yang memperingati Restorasi Kemerdekaan itu, delegasi dari NTT berdiri tegak, seragam safari mereka terlihat kontras namun menyatu dalam semangat persaudaraan. Wakil Gubernur NTT, Johni Asadoma, dan Perdana Menteri Ray Kala Xanana Gusmao berjabat erat, bukan sekadar jabatan pejabat, tapi genggaman dua ‘lia nain’—dua tetua—yang menyatukan sejarah panjang Timor Leste dan Indonesia di wilayah perbatasan. Latar belakang perbukitan kering Dili seolah menjadi saksi bisu bahwa diplomasi yang hangat ini lahir dari medan-medan perbatasan yang sering terik dan penuh tantangan.

Patok Perbatasan dan Dua Nama yang Bergema di Kampung-Kampung

Suara debur ombak Samudera Hindia memecah kesunyian di pesisir barat enklave Oecusse, di tempat warga mengenal satu titik bernama Citrana. Seratus kilometer lebih ke selatan, di Kecamatan Amfoang Timur, Kabupaten Kupang, hamparan savana dan bukit batu menyembunyikan dusun Naktuka. Dua nama ini bukan sekadar koordinat di peta bilateral, tapi denyut nadi kehidupan warga yang sehari-hari mempertanyakan di mana sebenarnya ‘rumah’ mereka berakhir. Anak-anak di Naktuka bersekolah dengan seragam merah putih, namun tetangga terdekat mereka bisa jadi adalah warga Timor Leste yang berbagi mata air dan pasar tradisional yang sama. Potret ini adalah gambaran nyata garis depan, di mana pagar hidup bukan dari kawat berduri, tapi dari saling ketergantungan dan interaksi sosial-ekonomi yang telah berlangsung puluhan tahun.

  • Kondisi Infrastruktur: Jalan akses menuju titik-titik sengketa seperti Citrana dan Naktuka masih berupa tanah berbatu, hanya bisa dilalui kendaraan roda empat dengan kecepatan rendah, terutama saat musim hujan.
  • Suara Warga: "Kami hanya ingin hidup tenang. Tiang patok itu penting, tapi lebih penting kami bisa terus jualan ke pasar di seberang dan keluarga bisa saling berkunjung," tutur Markus Baki, petani dari Desa Oepoli yang berbatasan langsung dengan wilayah Oecusse.
  • Fakta Lapangan: Aktivitas lintas batas tradisional untuk keperluan dagang, pendidikan, dan acara adat masih terus berjalan, menunjukkan bahwa realitas sosial di lapangan sering kali lebih maju daripada pembahasan di meja perundingan.

Diplomasi di Lapangan: Dari Dili Hingga Dusun-Dusun Perbatasan

Jabat tangan di Dili itu memiliki gema yang langsung terasa hingga ke pos jaga terdepan di Mota’ain dan Motamasin. Komitmen untuk mengedepankan jalur diplomasi yang disepakati Asadoma dan Gusmao diterjemahkan oleh petugas Pamtas sebagai sikap santun namun tetap waspada. Mereka adalah ujung tombak dari pernyataan politik itu, yang setiap hari berinteraksi dengan warga Timor Leste dan masyarakat NTT di garis demarkasi. Kerja sama keamanan yang intens mencegah gesekan, sementara pembicaraan mengenai konektivitas infrastruktur dan pariwisata terus digaungkan untuk mengubah zona perbatasan dari area yang ‘terisolasi’ menjadi ‘jendela kerja sama’. Pendekatan dialog ini adalah upaya konkret untuk menjaga stabilitas dan memastikan ketegangan tidak lahir dari kesalahpahaman atau kevakuman komunikasi.

Pesan yang dibawa delegasi NTT dari Dili kembali ke Kupang dan bergema di kantor-kantor dinas: penyelesaian harus damai, untuk kesejahteraan bersama. Di balik kata diplomasi, ada kerja keras pemerintah daerah NTT memfasilitasi pertemuan lintas batas, mengawal program pembangunan infrastruktur pendukung, dan yang terpenting, mendengarkan aspirasi warga perbatasan yang hidup di ‘garis depan’ kedaulatan. Mereka adalah orang-orang yang merasakan langsung dampak dari setiap kebijakan, yang tanah leluhurnya bisa tiba-tiba memiliki dua nama berbeda dalam dua peta negara yang berbeda.

Potret dari perbatasan NTT-Timor Leste ini akhirnya bukan tentang konflik, tetapi tentang ketangguhan hubungan manusia yang melampaui batas administrasi. Ia adalah narasi tentang penghormatan, di mana pembicaraan di meja tinggi di Dili harus selaras dengan denyut kehidupan di dusun Naktuka dan pesisir Citrana. Sebagai warga negara Indonesia, melihat komitmen damai ini membangkitkan rasa kebangsaan yang dalam: menjaga kedaulatan tidak hanya dengan ketegasan, tetapi juga dengan kebijaksanaan dan empati terhadap saudara kita di seberang garis, serta kepedulian penuh terhadap nasib warga Indonesia yang dengan tabah hidup dan menjaga setiap jengkal tanah di ujung negeri, menanti kepastian yang membawa kesejahteraan.

penyelesaian sengketa perbatasan diplomasi bilateral hubungan lintas batas kerja sama daerah
Tokoh: Johni Asadoma, Ray Kala Xanana Gusmao
Lokasi: Lapangan Tasitolu, Dili, Nusa Tenggara Timur, Timor Leste, Naktuka, Amfoang Timur, Kupang, Citrana, Oecusse, NTT

Artikel terkait