NASIONALISM

Resmi Jabat Kepala Badan Pengelola Perbatasan, Maruli Akan Optimalkan Sistem Swakelola

Resmi Jabat Kepala Badan Pengelola Perbatasan, Maruli Akan Optimalkan Sistem Swakelola

Jenderal Maruli Simanjuntak resmi menjabat Kepala Badan Nasional Pengelola Perbatasan, membawa semangat Sistem Swakelola untuk memberdayakan masyarakat di garis depan. Dari tambak garam di Rote hingga koperasi perikanan di Sebatik, warga perbatasan mulai merasakan manfaat kemandirian ekonomi. Inilah potret optimisme baru untuk kesejahteraan di ujung negeri.

Angin laut berhembus kencang membawa butir-butir garam di sepanjang pesisir Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur. Di utara Indonesia, ombak di Miangas menggulung tenang di bawah cahaya senja, sementara di Sebatik, perahu nelayan bersandar di dermaga kayu yang mulai lapuk. Perbatasan Indonesia bukan sekadar garis di peta—ia adalah denyut kehidupan ribuan warga yang setiap hari berhadapan dengan keterbatasan. Namun, dari sebuah ruangan sederhana di ibu kota, seorang jenderal menatap peta besar negeri ini dan berjanji mengubah segalanya. Jenderal Maruli Simanjuntak, yang baru saja dilantik sebagai Kepala Badan Nasional Pengelola Perbatasan dan Daerah Terpencil, membawa semangat baru: Sistem Swakelola yang menempatkan masyarakat garis terdepan sebagai tuan rumah pembangunan.

Potret Garis Depan: Dari Peta ke Swakelola

Di dinding kantor barunya, peta raksasa Indonesia membentang dari Sabang sampai Merauke. Garis-garis perbatasan tampak nyata, begitu juga titik-titik terpencil seperti Rote, Miangas, dan Sebatik yang menyimpan denyut kehidupan yang berbeda. Ada kelompok tani di Rote yang mengolah tambak garam dan lahan kering, warga Miangas yang bergotong royong menjaga mesin pembangkit listrik, serta pemuda Sebatik yang menjalankan koperasi perikanan di tengah keterbatasan. Mereka semua adalah cikal bakal Pemberdayaan Masyarakat yang ingin dioptimalkan Maruli melalui Sistem Swakelola. Berikut adalah potret infrastruktur yang telah dikelola secara mandiri di garis depan:

  • Pos kesehatan di Pulau Rote yang dibangun dan dijaga kelompok kader setempat, menjadi pusat pelayanan dasar bagi ratusan keluarga pesisir.
  • Sistem penyediaan air bersih di Miangas yang dikelola dengan semangat gotong royong, mengalirkan air dari mata air pegunungan ke rumah-rumah warga.
  • Koperasi pertanian dan perikanan di Sebatik yang menjadi tulang punggung ekonomi lokal, memasok hasil laut dan kebun hingga ke pasar-pasar di Tarakan.

Suara dari Ujung Negeri: Kemandirian yang Diberdayakan

Pengalaman dua tahun memimpin TNI Angkatan Darat mengajarkan Maruli bahwa kekuatan pertahanan terbaik lahir dari rasa memiliki. “Upaya meningkatkan Kesejahteraan Perbatasan tidak selalu harus bergantung pada anggaran badan,” ujar Maruli. Baginya, membuka peluang ekonomi dan mendorong keterlibatan aktif warga adalah kunci. Di kepalanya, ia membayangkan jaringan komunitas perbatasan yang saling berbagi pengalaman—dari pengelolaan tambak garam di Nusa Tenggara hingga penjagaan stasiun komunikasi di perbatasan Papua. Hasilnya mulai terlihat: tambak garam yang dikelola secara swakelola di NTT kini bukan hanya memenuhi kebutuhan lokal, tetapi juga menembus peluang ekspor kecil-kecilan. Di perbatasan Papua, stasiun komunikasi yang dijaga para pemuda setempat telah menjadi jembatan informasi yang menghubungkan desa dengan pusat. Inilah bukti bahwa Pemberdayaan Masyarakat melalui Sistem Swakelola bukanlah utopia, melainkan kenyataan yang sedang dirajut dari ujung ke ujung negeri.

Langkah berikutnya adalah memperkuat koordinasi antarkomunitas. Saat nelayan Miangas belajar dari pengalaman koperasi Sebatik, atau kelompok tani Rote berbagi teknik dengan warga Papua, maka perbatasan tidak lagi terpisah oleh laut dan gunung. Badan Nasional Pengelola Perbatasan dan Daerah Terpencil, dengan Maruli di dalamnya, bertekad menjadi katalisator perubahan. Kita diajak menatap kembali peta negeri ini—bukan sekadar garis batas, melainkan rumah bagi saudara-saudara yang menjaga kedaulatan di ujung sana. Sudah saatnya kita mendengar suara mereka, merasakan semilir angin garam di Rote, dan berjalan bersama di bawah senja Miangas. karena di setiap titik perbatasan, ada harapan yang layak diperjuangkan.

Pengelolaan perbatasan sistem swakelola pemberdayaan masyarakat
Tokoh: Maruli Simanjuntak
Organisasi: Badan Nasional Pengelola Perbatasan dan Daerah Terpencil, TNI Angkatan Darat
Lokasi: Indonesia, Pulau Rote, Miangas, Sebatik, Nusa Tenggara, Papua

Artikel terkait