Embun pagi menggantung di rerumputan lereng bukit Jayawijaya, membasahi deretan tenda darurat berterpal biru kusam yang berjajar tak beraturan. Asap tipis dari tungku kayu bakar menari mengikuti angin lembah, sementara anak-anak dengan baju lusuh bermain di kubangan. Di balik panorama megah pegunungan Papua ini, ribuan pengungsi internal dari Nduga memulai hari mereka di pemukiman sementara, menyambut Hari Pengungsi Sedunia dengan tatapan yang memancarkan ketegangan dan harapan yang membeku. Suasana di lereng pengungsian ini adalah potret garis depan yang sesungguhnya, di mana udara kebebasan terasa berat oleh bayangan konflik yang belum usai.
Potret Pilu di Balik Terpal Biru yang Kusam
"Delapan tahun kami hidup dalam pengasingan di tanah sendiri," ujar Raga Kogeya, suaranya lantang meski pecah oleh waktu, tangannya menunjuk ke arah pegunungan kampung halamannya yang samar tertutup kabut. Di sudut tenda lain, Elkana memegang erat kartu BPJS Kesehatan yang sudah lusuh dan lembab, berbisik tentang tetangga yang meninggal tanpa penanganan medis layak. Data dari relawan lapangan pada 2025 mengungkap skala tragedi pengungsi ini dengan gamblang:
- Sekitar 10.000 pengungsi internal Nduga bertahan hidup di pengungsian Jayawijaya saja.
- Lebih dari seribu jiwa telah meninggal di tenda-tenda akibat kondisi yang memprihatinkan.
- Pelayanan kesehatan dan pendidikan nyaris tak tersentuh, sementara biaya administrasi menjadi tembok tak terjangkau bagi mereka yang kehilangan segalanya.
Raga menggambarkan kampung halaman yang kini sepi, di mana langit tak lagi hanya milik burung, tetapi juga drone, diikuti bunyi ledakan yang mengubah permukiman warga menjadi kenangan pahit. Setiap tenda di sini menyimpan cerita panjang tentang rumah dari kayu lokal yang ditinggalkan, kebun ubi yang tak terawat, dan aliran sungai yang kini hanya bisa dirindukan dari kejauhan.
Gema Desakan dari Lereng Pengungsian
Di antara dinginnya malam dan teriknya siang Jayawijaya, satu suara kolektif terus bergema dari lereng pengungsian: keinginan untuk pulang. "Kami hanya meminta satu hal: tarik pasukan militer dari kampung kami," tegas Raga, matanya berkaca-kaca namun penuh determinasi. Desakan ini bukan sekadar permintaan, melainkan teriakan hati ribuan jiwa yang setiap hari menatap gunung, membayangkan udara kebebasan di tanah leluhur. Pengungsian ini telah menjadi ruang antri panjang menuju normalitas yang tak kunjung datang, sebuah garis depan kehidupan yang terasa jauh dari sorotan pusat.
Jayawijaya bukan hanya nama di peta, tetapi saksi bisu perjuangan warga perbatasan Indonesia yang bertahan di ujung ketidakpastian. Setiap tenda, setiap asap dari tungku kayu bakar, dan setiap tatapan kosong anak-anak di sini adalah bagian dari potret garis depan yang sering luput dari perhatian. Mereka adalah pengungsi internal yang hidup dalam bayangan konflik, merindukan kampung halaman di Nduga yang kini hanya bisa mereka kenang dari kejauhan lereng pengungsian.
Sebagai bangsa yang besar, mendengar suara dari lereng Jayawijaya ini bukan sekadar empati, tetapi kewajiban untuk mengakui bahwa kedaulatan sejati terletak pada kemampuan negara melindungi seluruh warganya—di pusat maupun di ujung teritorial. Kepedulian terhadap nasib saudara-saudara di Nduga adalah cermin dari semangat nasionalisme yang inklusif, yang memandang setiap jengkal tanah perbatasan bukan sebagai garis semata, tetapi sebagai rumah bagi putra-putri Indonesia yang berhak hidup damai dan bermartabat di tanah airnya sendiri.