SUARA PERBATASAN

Suara Perbatasan: Aspirasi Warga untuk Akses Air Bersih

Suara Perbatasan: Aspirasi Warga untuk Akses Air Bersih

Warga perbatasan Indonesia di Nunukan, Malinau, Sambas, dan Belu masih berjuang mengakses air bersih, menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengambil air dari sumber yang jauh dan terkadang terkontaminasi. Aspirasi mereka sederhana: air layak konsumsi yang mengalir langsung ke rumah sebagai wujud keadilan pembangunan. Suara warga ini adalah cerminan ketahanan dan harapan di perbatasan, menuntut perhatian nyata agar hak dasar sebagai penjaga tapal batas terpenuhi.

Kami berdiri di tepian Sungai Sebuku, kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, di titik kilometer nol Indonesia-Malaysia. Udara lembap menusuk kulit, tanah merah membara di bawah terik mentari. Di latar belakang, perumahan warga dengan atap seng berkarat membentuk siluet garis depan. Beberapa warga — ibu-ibu dengan ember plastik bekas, anak-anak dengan jerigen kosong — berjalan pelan menuju sebuah sumur terbuka berair keruh. Ini bukan gambar potret romantisme pedesaan, melainkan gambaran keseharian perjuangan warga perbatasan Indonesia untuk sekadar memenuhi kebutuhan paling dasar: air bersih. Suara kincir angin yang tak berputar dan pipa-pipa PDAM yang mangkrak menjadi saksi bisu atas aspirasi yang tertahan.

Dari Jerigen ke Sumur: Potret Harian Pencarian Air

Di Dusun Aji Kuning, perbatasan Malinau-Sarawak, rutinitas pagi warga dimulai bukan dengan secangkir kopi, melainkan dengan perjalanan kaki sejauh dua kilometer. Mereka menuruni lereng curam, menyusuri jalan setapak licin, untuk mencapai mata air yang mengalir pelan. "Setiap hari begini, sejak kecil. Paling tidak tiga kali bolak-balik untuk isi air minum, masak, sama mandi," ujar Sari, 35, sambil menahan napas karena beban dua jerigen di pikulannya. Kondisi ini memaksa mereka membuat prioritas: air jernih untuk minum, air agak keruh untuk masak, dan air coklat kecokelatan dari kubangan untuk mencuci. Aspirasi mereka sederhana: agar kran di rumah masing-masing bisa mengalirkan air yang layak konsumsi, tanpa harus mempertaruhkan nyawa di jalanan terjal.

  • Infrastruktur Terbatas: Hanya 15% rumah tangga di wilayah perbatasan Kabupaten Nunukan yang memiliki akses air bersih melalui jaringan perpipaan.
  • Waktu yang Terbuang: Rata-rata warga menghabiskan 2-3 jam per hari hanya untuk mengumpulkan air dari sumber yang jauh.
  • Kesehatan Terancam: Kasus diare dan penyakit kulit akibat air terkontaminasi masih menjadi momok di sejumlah pos lintas batas.
  • Suara Warga: "Kami bukan minta kemewahan. Cuma air bersih yang sama seperti di kota. Itu hak kami sebagai warga negara," tutur Markus, ketua RT di Sei Nyamuk.

Aspirasi di Ujung Negeri: Air Bersih Sebagai Simbol Keadilan

Aspirasi warga perbatasan untuk akses air bersih yang lebih baik bukan sekadar tuntutan fisik, melainkan simbol pengakuan atas eksistensi mereka sebagai penjaga tapal batas. Di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Aruk, Sambas, air bersih menjadi barang langka saat kemarau. Warga bergantung pada truk tangki air yang datang tak menentu. "Kalau pas musim kemarau, air sumur asin. Harus beli air isi ulang, Rp5.000 per galon. Itu buat kami yang penghasilannya dari kebun saja, berat," keluh Aminah, penjaga warung di pinggir pos perbatasan. Mereka menyadari bahwa pembangunan infrastruktur di wilayah perbatasan memang kompleks, namun mereka percaya bahwa akses air bersih adalah indikator nyata dari pembangunan negeri yang merata. Suara mereka adalah suara yang membutuhkan perhatian — suara yang menginginkan perubahan konkret untuk kehidupan yang lebih sehat dan layak, tanpa harus meninggalkan tanah kelahiran mereka di garis depan.

Di tengah kesulitan itu, semangat gotong royong warga perbatasan tetap menyala. Mereka membentuk kelompok pengelola air sederhana, bergantian membersihkan mata air, dan berbagi sumber ketika salah satu keluarga kekurangan. Namun, upaya mandiri ini seringkali tak cukup menghadapi musim kering yang semakin panjang. Mereka berharap, aspirasi yang mereka sampaikan melalui berbagai forum desa dan kunjungan pejabat tidak berhenti di atas kertas, melainkan terwujud dalam bentuk pipa yang mengalirkan air jernih ke setiap rumah. "Kami menjaga perbatasan, tapi jangan biarkan kami kehausan," ucap Pak De di perbatasan Motaain, Belu, dengan mata berkaca-kaca namun penuh keyakinan.

Ketika bendera Merah Putih berkibar gagah di tiap pos perbatasan, di bawahnya ada ibu-ibu yang masih harus merebus air keruh berulang kali agar layak diminum anaknya. Ada bapak-bapak yang tulang punggungnya sudah bungkuk menggendong jerigen sejak muda. Aspirasi mereka untuk akses air bersih adalah cerminan dari cita-cita besar Indonesia: keadilan sosial bagi seluruh rakyatnya, tanpa terkecuali bagi mereka yang berdiri di garda terdepan. Memperhatikan suara warga perbatasan berarti memperkuat ketahanan nasional dari pinggiran. Setiap tetes air bersih yang mengalir ke rumah-rumah di ujung negeri bukan hanya memenuhi kebutuhan fisiologis, melainkan juga menegaskan bahwa negara hadir dan peduli kepada seluruh anak bangsanya — dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Pulau Rote. Di situlah nasionalisme yang sesungguhnya diuji: bukan hanya di pidato, tetapi dalam kepedulian nyata terhadap denyut nadi kehidupan di garis depan.

Artikel terkait