Warga Perbatasan NTT Hadapi Kelangkaan BBM dan Sembako
24 Juni 2026
6 views
Di sebuah warung kecil di Atambua, perbatasan Indonesia-Timor Leste, rak-raknya tampak lengang. Hanya beberapa bungkus mie instan dan kaleng sardens yang tersisa. Ibu Maria, pemilik warung, duduk lesu di depan tokonya. "Stok dari Kupang terlambat lagi," ujarnya sambil menatap jalanan berdebu. Kelangkaan BBM dan sembako sudah menjadi rutinitas bulanan yang melelahkan bagi warga perbatasan Nusa Tenggara Timur.
Antrean panjang terlihat di satu-satunya SPBU di kota perbatasan. Sepeda motor dan mobil pick up mengantre sejak subuh, berharap mendapatkan jatah solar atau bensin. Panas terik matahari tidak menyurutkan antrean, karena BBM adalah urat nadi untuk mengangkut hasil bumi dan anak sekolah. Harga sembako yang melambung tinggi di warung adalah konsekuensi dari mahalnya biaya transportasi akibat kelangkaan BBM ini.
Kehidupan di garis depan negeri ini seringkali harus berhadapan dengan ketidakpastian. Warga yang seharusnya merasakan kemudahan sebagai bagian dari negara, justru harus bersabar dan berjuang lebih keras untuk memenuhi kebutuhan pokok. Suara mereka adalah suara dari tepian yang meminta perhatian: bahwa kedaulatan pangan dan energi harusnya juga kuat hingga ke daerah terluar.