SUARA PERBATASAN

Warga Pulau Marore, Ujung Utara Nusantara: Kami Butuh Dokter, Bukan Sekadar Poskesdar

Warga Pulau Marore, Ujung Utara Nusantara: Kami Butuh Dokter, Bukan Sekadar Poskesdar

Di Pulau Marore, ujung utara Indonesia, Pos Kesehatan Darurat hanya berupa bangunan sederhana dengan fasilitas minim dan tanpa dokter tetap, membuat warga bergantung pada kapal yang datang seminggu sekali. Suara warga seperti Lina menyuarakan kebutuhan mendesak: akses kesehatan yang setara dan nyata, bukan sekadar simbol. Di balik tiang bendera yang tegak, tantangan hidup di garis depan perbatasan tetap menghadang, memanggil kehadiran negara yang lebih konkret dalam pelayanan publik.

Kabut pagi masih menyelimuti garis depan Nusantara, ketika kaki-kaki pertama mulai berjalan dari rumah-rumah sederhana di Pulau Marore. Laut di bawahnya berwarna biru kelam, gelombangnya mengisyaratkan isolasi yang sudah jadi bagian dari hidup sehari-hari. Di tanjung paling utara, tiang bendera merah putih berdiri tegak melawan angin laut yang kuat—simbol kedaulatan yang tampak megah dari jauh, namun sering kali berjarak dari kondisi riil yang dihadapi warga perbatasan ini.

Poskesdar Biru Pudar: Potret Pelayanan Publik di Ujung Negeri

Bangunan satu kamar berwarna biru yang sudah pudar mengepung di antara rumah-rumah warga. Ini adalah Pos Kesehatan Darurat (Poskesdar), satu-satunya titik layanan kesehatan di pulau terluar Marore, Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara. Pintunya terbuka, namun di dalamnya, sebuah tempat tidur besi kosong menunggu tanpa pasien, dan lemari obat sebagian besar kosong hanya menampung beberapa boks obat dasar. Tidak ada dokter yang menetap. Warga hanya bergantung pada seorang bidan yang harus menjangkau seluruh penduduk pulau dan pulau-pulau kecil sekitarnya—jangkauan yang sering kali terlalu berat untuk tenaga tunggal.

  • Bangunan satu kamar dengan warna biru pudar, dindingnya mulai terkelupas.
  • Tempat tidur besi kosong tanpa sprei atau alat pendukung.
  • Lemari obat hanya menyimpan beberapa jenis obat dasar, jauh dari kebutuhan riil.
  • Tenaga kesehatan satu bidan untuk seluruh populasi pulau Marore dan sekitarnya.

Lina dan Anaknya: Suara dari Garis Depan yang Membisu

Di teras poskesdar, Lina, seorang ibu muda, duduk terpaku menggendong anaknya yang demam tinggi. Matahari mulai panas, namun ia masih menunggu, sejak pagi, berharap ada dokter yang turun dari kapal yang datang dari Tahuna, ibukota kabupaten. "Kapal datang seminggu sekali, kalau cuaca bagus," ucapnya dengan suara bergetar. "Kalau seperti anak saya sekarang ini, kami hanya bisa berdoa dan kompres pakai air dingin." Di balik wajahnya yang tegar, ada kepasrahan yang muncul dari keterbatasan sistem kesehatan di wilayah pulau terluar ini. Pemandangan dari teras ini memperlihatkan hamparan laut luas yang memisahkan Marore dari Filipina di utara—jarak yang membuat akses semakin sulit, namun juga menjadi saksi betapa warga perbatasan Indonesia membutuhkan kehadiran negara yang lebih nyata.

Tidak hanya Lina. Banyak warga lain yang mengalami hal serupa: akses kesehatan yang bergantung pada kapal, yang datang hanya seminggu sekali dan sangat tergantung cuaca. Ketika musim badai atau gelombang tinggi, pulau ini terisolasi secara total, dan pelayanan publik—termasuk kesehatan—hampir terhenti. Mereka merindukan seorang dokter yang siap sedia, obat-obatan yang lengkap, dan akses kesehatan yang setara dengan saudara-saudara mereka di daratan besar. Di garis depan ini, kebutuhan itu bukan sekadar harapan, tapi kebutuhan mendesak yang menentukan hidup dan mati.

Dari tanjung tempat tiang bendera berdiri, mata bisa melihat hamparan laut dan pulau-pulau kecil di sekeliling. Ini adalah wilayah Indonesia yang paling utara, titik awal kedaulatan. Namun, di balik simbol kedaulatan itu, tantangan hidup sehari-hari warga begitu nyata. Mereka bukan hanya membutuhkan poskesdar, tapi sistem kesehatan yang utuh: dokter tetap, perawat, obat lengkap, dan transportasi medis yang responsif. Pesan mereka jelas: kami butuh dokter, bukan sekadar poskesdar. Di sini, di ujung utara Nusantara, semangat nasionalisme warga tetap tinggi, namun mereka ingin negara hadir lebih nyata dalam bentuk pelayanan publik yang mendasar—akses kesehatan yang manusiawi dan terjamin.

kesehatan fasilitas kesehatan kondisi infrastruktur akses kesehatan kondisi sosial
Tokoh: Lina
Lokasi: Pulau Marore, Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, Tahuna, Filipina

Artikel terkait