Di Pulau Sebatik, Nunukan, Kalimantan Utara, setiap pagi dan sore menjelang, perempuan-perempuan dengan langkah berat berjalan beriringan. Jerigen plastik kuning dan biru bergelayut di tangan mereka, menempuh jarak 2 kilometer dari pemukiman ke sumber air bersih terdekat. Jalan setapak yang dipenuhi batu tajam dan debu membentang di bawah terik matahari, tubuh-tubuh yang membungkuk oleh beban air, keringat mengucur di pelipis meski hari masih pagi. Jerigen-jerigen itu diisi dari mata air kecil yang mengalir dari celah batu—sumber kehidupan yang menjadi penopang sehari-hari warga perbatasan di pulau yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Ritual harian ini tak pernah surut, sebuah perjuangan tanpa henti untuk kebutuhan dasar yang paling mendasar: air bersih.
Potret Garis Depan: Ritual Harian Menjemput Air
Di pemukiman, bak-bak penampungan air dari drum bekas yang sudah berkarat menjadi pemandangan umum. Air yang didapat dengan susah payah itu digunakan untuk minum, masak, mandi, dan mencuci—dengan perhitungan yang sangat hemat. Anak-anak kecil mandi dengan air seadanya, sementara ibu-ibu dengan hati-hati mengukur air untuk memasak nasi sehari. Seorang warga berkata, 'Kalau musim kemarau, sumber air ini juga menyusut. Kadang harus antre lama sekali.' Kondisi ini nyata di garis depan NKRI, di mana air bersih masih menjadi mimpi yang harus diperjuangkan setiap hari.
- Jarak tempuh: 2 kilometer dari pemukiman ke sumber air, melewati medan berbatu dan berdebu.
- Sumber air: Mata air kecil dari celah batu, rentan menyusut saat kemarau.
- Kapasitas tampung: Drum bekas berkarat sebagai penampungan utama, kapasitas terbatas.
- Dampak harian: Warga harus menghemat air untuk memasak, mandi, dan mencuci—setiap tetes berharga.
Infrastruktur yang Tertinggal di Ujung Negeri
Pulau Sebatik, yang secara geografis menjadi bagian terdepan NKRI di Kalimantan, masih bergulat dengan masalah paling dasar: air bersih dan infrastruktur yang memadai. Di seberang perbatasan, pipa-pipa air sudah menjangkau pemukiman di Malaysia. Kontras ini terasa nyata bagi warga Sebatik yang setiap hari melihat perkembangan di sisi lain. Perjuangan mendapatkan air bersih adalah ritual harian yang menguji ketahanan fisik dan mental—sebuah pekerjaan tak kenal lelah yang jarang masuk dalam berita nasional. Nunukan sebagai daerah perbatasan menghadapi tantangan kebutuhan dasar yang belum sepenuhnya terpenuhi. Pemerintah setempat telah berupaya membangun sumur bor, namun distribusi masih belum merata di seluruh pelosok pulau. Warga berharap kehadiran negara dapat dirasakan lebih nyata, terutama dalam penyediaan air bersih untuk kehidupan sehari-hari.
Di ujung negeri, di mana bendera Merah Putih berkibar di Pulau Sebatik, perjuangan untuk mendapatkan air bersih adalah cermin ketangguhan warga perbatasan. Mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang setiap hari memastikan kehidupan tetap berjalan. Saat kita menyalakan keran di rumah dengan mudah, ingatlah saudara-saudara kita di garis depan yang harus menempuh 2 kilometer hanya untuk setetes air. Sudah saatnya infrastruktur di wilayah perbatasan mendapat perhatian serius—bukan hanya sebagai proyek, tetapi sebagai wujud nyata kehadiran negara. Air bersih bukan lagi mimpi; ia adalah hak yang harus diwujudkan untuk menjaga kedaulatan dan kesejahteraan di ujung NKRI.