Kabut pagi masih menggantung rendah di atas selat sempit yang memisahkan dua kedaulatan. Dari dermaga kayu sederhana di Desa Tanjung Harapan, Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, suara ketukan mesin tempel yang sudah usang mengoyak kesunyian pagi. Di atas lambung perahu kayu yang sudah menghitam oleh terik dan garam laut, puluhan jeriken plastik biru dan kuning tersusun bak pasukan. Setiap jeriken itu berisi air bersih yang akan menyeberangi perbatasan, menjadi urat nadi kehidupan bagi warga di kampung-kampung terpencil yang belum disentuh oleh jaringan pipa. Suara ombak kecil yang menyapu akar-akar bakau menjadi saksi bisu rutinitas perjuangan harian di ujung utara Kalimantan ini—sebuah upaya mengangkut kebutuhan paling mendasar dengan cara paling arkais.
Narasi Perjuangan di Atas Selat
Perlahan, perahu itu meninggalkan dermaga. Markus, seorang pengangkut air, dengan cekatan menata ulang jeriken-jeriken yang bergeser. Tangannya yang sudah kasar oleh tali dan terik matahari memegang erat dua jeriken tambahan. ‘Ini sudah seperti rutinitas, Pak. Kalau tidak begini, ya harus minum air hujan atau beli air kemasan yang harganya selangit,’ ujarnya, sambil matanya menatap ke seberang, ke kampung halamannya yang hanya tampak sebagai deretan rumah panggung di kejauhan. Setiap harinya, dia dan warga lainnya mengarungi selat ini, mempertaruhkan keselamatan di antara arus dan cuaca yang tak menentu, hanya untuk memenuhi kebutuhan air minum keluarga. Kata ‘air bersih’ di sini bukanlah konsep abstrak, melainkan beban fisik yang harus diusung dengan keringat dan kehati-hatian ekstra.
Di daratan Pulau Sebatik sisi Indonesia, kontras terlihat begitu nyata. Pipa-pipa PDAM hanya sampai di wilayah tertentu, bagaikan pembuluh darah yang terputus sebelum mencapai ujung jari. Daerah pesisir dan kampung-kampung terpencil masih menggantungkan hidup pada sumur bor, yang airnya seringkali berubah payau ketika musim kemarau tiba, meninggalkan rasa asin di lidah dan kekhawatiran di hati. Jeriken-jeriken air itu pun menjadi simbol ganda: ketahanan luar biasa warga, sekaligus kerentanan infrastruktur di garis depan. Di tengah hamparan laut lepas dan hutan bakau yang lebat, perjuangan untuk mendapatkan setetes air yang layak minum bukanlah alegori, melainkan cerita nyata yang terpahat di setiap kayu rumah panggung dan terpatri dalam ingatan anak-anak yang tumbuh di sini.
Air sebagai Cermin Kondisi Riil Garis Depan
Kondisi di Pulau Sebatik ini adalah potret nyata dari kehidupan di ujung teritorial Indonesia. Aktivitas mengangkut air dengan perahu bukan sekadar pekerjaan, tetapi sebuah ritual ketahanan hidup yang mengungkap beberapa fakta mendasar:
- Akses Terbatas: Air bersih yang merupakan hak dasar belum bisa diakses dengan mudah dan aman oleh seluruh warga, terutama di daerah pesisir dan terpencil Pulau Sebatik, Nunukan.
- Ketergantungan pada Sistem Informal: Warga membangun sistem suplai mandiri yang penuh risiko, mengandalkan perahu kayu dan jeriken, menggantikan peran infrastruktur publik yang belum menjangkau.
- Kerentanan Ekonomi: Alternatif lain adalah membeli air kemasan dengan harga tinggi, yang menjadi beban ekonomi tambahan bagi rumah tangga di perbatasan.
- Resiko Keselamatan: Setiap penyeberangan membawa potensi bahaya, menjadikan kebutuhan sehari-hari sebagai sebuah petualangan yang sarat ketidakpastian.
Namun, di balik rintangan itu, semangat gotong royong dan rasa kebersamaan justru menguat. Warga saling membantu menaikkan dan menurunkan jeriken, berbagi informasi tentang kondisi arus selat, dan menjaga agar usaha kolektif ini tetap berjalan. Di sini, air tidak hanya menghilangkan dahaga, tetapi juga menjadi perekat sosial di tengah tantangan geografis yang keras. Mereka adalah penjaga kedaulatan yang sesungguhnya, yang bertahan hidup dengan segala daya upaya di tanah yang mereka cintai, meski fasilitas dasar kerap terasa jauh.
Menyaksikan perahu-perahu pengangkut air itu berlalu di perairan yang sama yang menjadi batas negara, hati kita tertampar oleh sebuah realitas. Garis depan Indonesia bukan hanya tentang pos-pos perbatasan yang kokoh, tetapi juga tentang keteguhan hati warga seperti Markus dan tetangganya di Pulau Sebatik, Nunukan. Perjuangan mereka untuk setetes air bersih adalah pengingat akan ketimpangan pembangunan yang masih perlu dituntaskan hingga ke sudut-sudut terjauh negeri. Setiap tetes air yang tiba dengan selamat di seberang adalah cermin dari semangat pantang menyerah. Mereka yang hidup di bibir negeri ini layak mendapatkan lebih dari sekadar jeriken-jeriken yang diangkut dengan susah payah; mereka berhak merasakan kemudahan dan kepastian sebagai bagian utuh dari Indonesia. Menjaga kedaulatan juga berarti memastikan kesejahteraan mengalir lancar, seperti air yang seharusnya, hingga ke ujung-ujung wilayah NKRI.