Udara lembap menyergap ketika rombongan BNPP dan pejabat daerah berdiri di depan Pos Lintas Batas (PLB) Temajuk, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Bangunan pos itu berdiri sederhana di tepi jalan, menghadap ke arah Telok Melano di Sarawak, Malaysia, yang hanya terpisah beberapa kilometer. Inilah ujung paling barat dari garis perbatasan darat Indonesia di Kalimantan, titik yang selama ini lebih banyak dilalui oleh cerita kerinduan warga dua negara yang terpisah administrasi tapi menyatu dalam ikatan keluarga dan budaya.
Forum koordinasi digelar di tempat ini, dipimpin Kepala Biro Perencanaan BNPP Budi Setyono. Peta daerah perbatasan dibentangkan, garis-garis merah menandai rencana pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) sektor pariwisata yang memanfaatkan keindahan pantai Temajuk. Suara diskusi bersahutan: tentang kesiapan infrastruktur, harmonisasi regulasi dengan pemerintah Malaysia, dan yang paling penting, pemenuhan kebutuhan sehari-hari masyarakat perbatasan yang selama ini merasa terisolasi.
"Pembukaan pelintasan ini bukan hanya soal membuka gerbang," jelas Budi, menatap ke arah jalan yang menuju perbatasan. "Tapi membuka akses bagi perekonomian, silaturahmi, dan masa depan yang lebih baik untuk warga Sambas dan tetangga mereka di Sarawak." Rencananya, pelintasan akan diresmikan sekitar akhir Agustus 2026, bertepatan dengan momentum Hari Kemerdekaan kedua negara, sebagai simbol persahabatan dan kerjasama.
Peninjauan lapangan menunjukkan pekerjaan rumah yang masih menumpuk: dari peningkatan fasilitas pos lintas batas, penyempurnaan sistem pelayanan CIQS (Bea Cukai, Imigrasi, Karantina, Keamanan), hingga pembangunan infrastruktur pendukung. Namun, cahaya optimisme terpancar dari wajah para pejabat daerah dan masyarakat yang hadir. Mereka melihat PLB Temajuk bukan sekadar pos penjagaan, tapi gerbang menuju kemakmuran yang selama ini hanya bisa mereka bayangkan.