INFRASTRUKTUR

BNPP RI Petakan 4 Isu Strategis Perbatasan, Perkuat Sinergi Lintas Sektor lewat Rencana Aksi 2026

BNPP RI Petakan 4 Isu Strategis Perbatasan, Perkuat Sinergi Lintas Sektor lewat Rencana Aksi 2026

Rapat koordinasi strategis di Bandung memetakan isu perbatasan, namun kondisi riil di lapangan seperti di Sebatik masih diwarnai keterisolasian, infrastruktur tertinggal, dan ketegangan sosial bekas konflik batas. Warga menantikan realisasi rencana aksi 2026, menekankan bahwa kolaborasi lintas sektor harus terwujud di tanah garis depan, di mana kehidupan sehari-hari masih bergantung pada genset dan akses terbatas.

Derum genset mendesing di balik nyanyian jangkrik, menerangi wajah Bayu yang menatap garis hijau di kejauhan. Dari gubuknya di Sebatik Utara, tiang-tiang putih penanda batas negara berdiri kukuh di antara rimbunnya kelapa, memisahkan bukan hanya daratan, tetapi juga akses terhadap kehidupan yang layak. Inilah wilayah terdepan, di mana sore hari tak hanya diisi oleh senja di perairan Sulawesi, tetapi juga oleh perjuangan harian melawan keterisolasian—sebuah realitas yang masih terasa jauh dari peta digital dan agenda rapat yang didiskusikan ribuan kilometer dari denyut nadinya.

Garis di Peta Digital, Luka di Tanah Garis Depan

Di sebuah ruang ber-AC di Hotel Travello, Bandung, layar proyektor memetakan setiap lekuk perbatasan dengan teliti. Setiap titik merah yang disoroti pejabat adalah kisah nyata bagi warga seperti Bayu: jalan tanah becek, sinyal telepon yang hilang-timbul, dan listrik yang menjadi barang mewah. Foto udara memperlihatkan segmen batas yang masih ‘menggantung’ dengan negara tetangga—garis-garis imajiner yang justru menorehkan luka sosial mendalam di lapangan. Kondisi riil di ujung negeri jauh lebih kompleks daripada yang terpetakan:

  • Di Simantipal, Pulau Sebatik, bekas konflik Outstanding Boundary Problems (OBP) masih menyisakan ketegangan antarwarga yang dulu hidup rukun berdampingan.
  • Pembangunan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) berjalan tertatih, beberapa bahkan bertahun-tahun tertunda dalam status carry over.
  • Konektivitas jalan terputus-putus bagai puzzle tak terselesaikan, memisahkan desa dari pusat layanan kesehatan dan pendidikan dasar.

Suara dari Lapangan: Rencana Aksi 2026 dan Genset yang Tak Pernah Padam

Sementara rapat koordinasi lintas sektor menggaungkan Rencana Aksi 2026 dengan anggaran strategis, di tanah perbatasan, kehidupan masih bergantung pada derum mesin genset. “Kami butuh lebih dari sekadar rencana di atas kertas,” ucap seorang kepala desa dari Kalimantan Barat yang hadir dalam forum, suaranya parau oleh perjalanan panjang dari garis depan. Pemerataan pembangunan masih menjadi mimpi di banyak titik terluar, di mana akses pendidikan dan kesehatan harus dibayar dengan perjalanan berhari-hari melalui jalur liar dan berbahaya. Makhruzi, dalam forum tersebut, menekankan bahwa kolaborasi adalah kunci mengurai kompleksitas masalah di wilayah terdepan—mulai dari mengawasi jalur tikus penyelundupan yang menggerogoti kedaulatan hingga menyempurnakan regulasi yang selama ini terasa asing di telinga warga.

Pertemuan di Bandung memang memberi secercah harapan, namun sebagaimana diungkapkan warga Sebatik, ujian sebenarnya ada di lapangan. Di sana, setiap hari adalah pertaruhan melawan keterasingan, sementara janji pembangunan kerap tertunda oleh birokrasi dan keterbatasan infrastruktur. Ketika peta digital diputar-putar di ruang rapat, di Sebatik, Bayu menatap langit yang gelap dan berharap sinergi yang digaungkan benar-benar sampai ke batas negara tempatnya berpijak.

Inilah potret nyata Indonesia di ujung teritorialnya—tempat di mana semangat nasionalisme warga bertahan di tengah ketiadaan, dan garis batas bukan sekadar simbol di peta, melainkan saksi bisu perjuangan hidup. Setiap kebijakan yang lahir dari meja rapat haruslah terasa denyutnya di sini, di tanah yang membutuhkan lebih dari sekadar wacana. Sebab, menjaga kedaulatan negara dimulai dari memastikan bahwa setiap jengkal wilayah perbatasan tak lagi menjadi tanah yang terlupakan, melainkan rumah yang layak bagi para pejuang di garis depan.

Artikel terkait