SUARA PERBATASAN

Cerita Perjuangan Para Peksos di Nunukan, Mengurus ODGJ Terlantar yang Mayoritas Eks TKI

Cerita Perjuangan Para Peksos di Nunukan, Mengurus ODGJ Terlantar yang Mayoritas Eks TKI

Di Rumah Perlindungan Trauma Center (RPTC) Nunukan, para peksos bertarung melawan keterbatasan infrastruktur untuk merawat ODGJ terlantar yang mayoritas adalah eks TKI yang ditolak. Mereka menjadi keluarga terakhir, menjahit kembali martabat manusia di garis depan kemanusiaan perbatasan dengan pengabdian tulus yang mengandalkan ketulusan, bukan fasilitas.

Cahaya senja temaram menerobos jendela tanpa tirai, melukiskan garis-garis debu yang berputar laksana hantu di atas lantai beton retak. Di Rumah Perlindungan Trauma Center (RPTC) Nunukan, ujung utara Kalimantan yang berhadapan langsung dengan Sabah, Malaysia, bau menyengat disinfektan berperang dengan aroma obat-obatan dan keringat yang telah meresap ke dinding. Seorang pekerja sosial, atau peksos, terlihat membungkuk di balik masker, membalikkan tubuh seorang lansia di kasur sederhana. Suasana lembap dan sunyi itu bukanlah keheningan, melainkan sebuah narasi yang lantang tentang garis depan kemanusiaan di tapal batas. Di ruang inilah, para peksos bertarung melawan keterbatasan untuk merawat Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) terlantar — mayoritas mereka adalah eks TKI yang pulang bukan sebagai pahlawan devisa, melainkan sebagai ‘sampah’ yang ditolak negeri seberang dan kadang, oleh keluarga sendiri.

Debu, Kenangan, dan Nestapa di Ujung Negeri

Rappe, 63 tahun, asal Bulukumba, terbaring pasif di salah satu sudut ruangan. Kulit keriputnya seperti peta yang mencatat setiap hari di bawah terik matahari perkebunan sawit Malaysia. Sudah dua tahun dia tinggal di Nunukan ini, diasingkan oleh ingatannya sendiri dan ditinggalkan oleh sanak saudara. Dia hanyalah satu dari sekian banyak mantan tenaga kerja yang dikembalikan ke perbatasan saat tubuh dan pikiran mereka tak lagi dianggap produktif. “Mereka ini dulunya buruh rumput laut, buruh sawit di seberang,” ujar seorang peksos dengan suara parau, sambil tekun menyeka lantai. Kata-katanya menohok, “Saat tak berguna, mereka dikembalikan seperti barang rusak. Kami di sini yang menerima ‘kiriman’ nestapa itu.” Setiap sudut RPTC bercerita tentang pengabdian yang bertahan di tengah keprihatinan, sebuah cermin buram dari realitas di garis depan sosial Indonesia.

Infrastruktur Retak dan Semangat yang Tak Pernah Patah

Kondisi RPTC adalah potret nyata pengabdian yang mengandalkan ketulusan sebagai pengganti kenyamanan. Di balik dinding yang lapuk dan cat mengelupas, para peksos menjahit kembali martabat manusia, selembar demi selembar. Mereka bekerja di tengah keterbatasan infrastruktur yang jauh dari kata layak:

  • Bangunan sederhana dengan fasilitas seadanya, mengandalkan donasi dan inisiatif pribadi.
  • Kebutuhan kritis seperti obat-obatan dan pampers seringkali tak tercukupi oleh anggaran yang tersedia.
  • Para peksos tak jarang mengorbankan kocek pribadi untuk memastikan penghuni, para ODGJ eks TKI itu, mendapat makanan dan kebutuhan dasar.
  • Luka terbesar adalah penolakan keluarga, sebuah trauma berulang yang harus dirawat di tengah sunyi perbatasan.
Meski demikian, di ruang retak inilah, cahaya kemanusiaan justru bersinar paling terang, dibawa oleh tangan-tangan yang tak pernah lelah.

Wajah-wajah para peksos Dinas Sosial Nunukan dipenuhi garis kelelahan, tetapi gerak mereka tak pernah berhenti. Membersihkan, mengganti, menyuapi, dan menemani bicara — itu adalah ritual harian tanpa pamrih. Mereka menjadi satu-satunya ‘keluarga’ bagi para Rappe, penjaga terakhir bagi mereka yang telah kehilangan segalanya: ingatan, pengakuan, dan tempat pulang. Di wilayah perbatasan yang sibuk dengan arus ekonomi dan lalu lintas manusia, tanggung jawab sosial seperti ini sering terpinggirkan, menjadi bisikan halus di tengah gemuruh perdagangan. Namun, justru di sinilah semangat kebangsaan diuji dan ditempa — bukan dengan pekik, tetapi dengan sentuhan. Dengan kesabaran membersihkan luka yang tak terlihat, para peksos ini merawat bukan hanya individu, tetapi juga harga diri bangsa di titik paling terdepannya.

Laporan dari Nunukan ini adalah pengingat bahwa garis depan Indonesia bukan hanya tentang pos-pos terdepan bersenjata, tetapi juga tentang ruang-ruang sunyi tempat martabat warga negara diperjuangkan. Setiap balikan tubuh, setiap suapan nasi, dan setiap kata penghiburan yang diberikan para peksos kepada para ODGJ mantan TKI itu adalah bentuk lain dari patriotisme. Mereka menjaga nyala api kemanusiaan di tapal batas, memastikan bahwa di ujung negeri ini, tidak ada seorang pun yang benar-benar terlantar. Kepedulian kita terhadap nasib saudara-saudara di perbatasan, termasuk mereka yang pulang luka dan ditolak, adalah ukuran sejati dari rasa kebangsaan kita. Di sini, di tanah retak yang menghadap ke seberang, Indonesia sedang dirawat dengan cara yang paling mendasar: melalui pelukan, pengabdian, dan pengakuan bahwa setiap jiwa, dalam kondisi apapun, tetap bernilai.

perjuangan pekerja sosial ODGJ terlantar eks TKI perlindungan trauma
Tokoh: Rappe
Organisasi: Dinas Sosial Nunukan, Rumah Perlindungan Trauma Center (RPTC)
Lokasi: Nunukan, Malaysia, Bulukumba

Artikel terkait