SUARA PERBATASAN

Cerita Perjuangan Para Peksos di Nunukan, Mengurus ODGJ Terlantar yang Mayoritas Eks TKI, Ikhlas Keluar Uang dan Panen Hujatan

Cerita Perjuangan Para Peksos di Nunukan, Mengurus ODGJ Terlantar yang Mayoritas Eks TKI, Ikhlas Keluar Uang dan Panen Hujatan

Di Rumah Perlindungan Trauma Center Nunukan, pekerja sosial berjuang merawat ODGJ dan eks TKI terlantar yang ditolak keluarga, dengan sumber daya terbatas dan pengorbanan pribadi. Di perbatasan yang kerap menjadi tempat akhir para deportan, mereka menjadi penjaga terakhir martabat manusia, mencerminkan nasionalisme nyata di garis depan kemanusiaan. Dedikasi mereka adalah pengingat bahwa tidak seorang pun warga negara, terutama di ujung negeri, boleh ditinggalkan.

Aroma disinfektan yang tajam bercampur dengan bau obat dan keringat menguar kuat di udara Rumah Perlindungan Trauma Center (RPTC) Nunukan. Cahaya redup yang menembus jendela sederhana menyinari wajah lelah tapi lembut seorang pekerja sosial yang sedang membasuh tubuh Rappe, seorang lansia eks Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Bulukumba. Kotoran yang mengering di lantai semen menjadi saksi bisu perjuangan harian di ujung negeri ini. Nunukan, kota perbatasan di Kalimantan Utara yang berhadapan langsung dengan Malaysia, tak hanya sekadar pos terdepan kedaulatan. Di balik hingar-bingur perdagangan lintas batas, ia menyimpan cerita lain sebagai ‘tempat pembuangan akhir’ bagi banyak deportan yang terluka, terlantar, dan terlupakan—sebuah garis depan kemanusiaan yang nyaris tak tersentuh sorotan.

Dari Deportan ke Terlantar: Wajah Lain Kehidupan di Perbatasan

Di dalam dinding shelter yang sederhana itu, lima Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) dan orang terlantar mendapatkan perlindungan. Mayoritas dari mereka adalah mantan TKI yang nasibnya terhempas setelah pulang ke tanah air. “Kita berjuang sendirian,” ujar Yarius, Kabid Rehabilitasi Sosial, dengan suara lirih namun penuh keyakinan. Keluarga para eks TKI ini seringkali menolak kepulangan mereka, meninggalkan beban moral dan fisik sepenuhnya di pundak segelintir pekerja sosial. Para pekerja sosial di Nunukan ini dipaksa berperan ganda: menjadi pengasuh, perawat, psikolog, dan bahkan keluarga pengganti bagi mereka yang telah dilupakan dunia. Kondisi infrastruktur dan dukungan yang terbatas memunculkan realitas yang pahit:

  • RPTC berfungsi sebagai satu-satunya tempat perlindungan bagi ODGJ dan eks TKI terlantar di wilayah perbatasan ini.
  • Penolakan keluarga terhadap anggota yang pulang sebagai deportan menciptakan lingkaran kesepian baru.
  • Sumber daya manusia dan material sangat terbatas, mengandalkan dedikasi di luar tugas resmi.
Suasana ini adalah potret nyata dari sisi gelap migrasi—ketika harapan untuk pulang berubah menjadi derita yang berlarut di Nunukan.

Panen Hujatan dan Pengorbanan Tanpa Pamrih di Garis Depan

Bila jam kerja resmi usai, perjuangan justru belum berakhir. Banyak dari para pekerja sosial ini masih menyempatkan diri kembali ke RPTC, rela mengeluarkan uang dari kantong pribadi mereka. Mereka urunan untuk membeli pampers, makanan tambahan, dan kebutuhan dasar lain yang tak tercukupi oleh anggaran terbatas. Tindakan mereka kerap tak dipahami, bahkan menuai hujatan dari sebagian kalangan yang mempertanyakan ‘urusan mereka’ mengurus orang-orang tak dikenal. Namun, di balik segala kritik itu, ada ritual harian yang tak tergantikan: membersihkan kotoran, menyuapi makanan, dan sekadar menemani duduk para penghuni yang mungkin tak lagi mengenal siapa pun. Mereka memandikan Rappe yang sudah dua tahun ditolak keluarganya, dengan gerakan penuh kasih yang lebih mirip seorang anak kepada orangtuanya. Inilah bentuk nasionalisme yang paling konkret—bukan di lapangan upacara, tapi di ruang sempit yang penuh bau obat, dengan tangan yang tak segan mengangkat martabat manusia yang jatuh.

Narasi kepahlawanan di perbatasan seringkali hanya tentang petugas berseragam di pos lintas batas. Namun, di RPTC Nunukan, pahlawan itu mengenakan apron sederhana, dengan tangan yang mungkin kotor, tapi hati yang bersih dari pamrih. Mereka adalah penjaga terakhir martabat para eks TKI yang dianggap sampah oleh bahkan sanak keluarganya sendiri. Setiap usapan air saat memandikan, setiap suapan nasi yang diberikan, adalah deklarasi diam-diam bahwa di Indonesia, di ujung paling depan sekalipun, tidak ada seorang pun yang boleh ditinggalkan sepenuhnya. Di sini, semangat menjaga kemanusiaan adalah wujud cinta tanah air yang paling mendasar—merawat mereka yang paling rentan, di tempat yang paling jauh dari pusat perhatian.

Laporan dari garis depan ini menegaskan bahwa perbatasan bukan hanya soal geopolitis dan ekonomi, tapi juga tentang jiwa-jiwa yang terdampar. Dedikasi para pekerja sosial di Nunukan adalah cahaya redup di tengah gelapnya pengabaian, mengingatkan kita semua bahwa keberanian sejati seringkali hadir dalam kesunyian dan kesabaran. Mereka tak menuntut penghargaan, hanya menginginkan agar tidak ada lagi warga negara, terutama para eks TKI, yang harus hidup terlantar dan terlupakan di tanah airnya sendiri. Inilah wajah Indonesia yang seharusnya tak pernah pudar: wajah yang peduli, memuliakan, dan tetap berjuang untuk sesama, sekalipun dari sudut negeri yang kerap luput dari peta perhatian.

pekerja sosial ODGJ terlantar eks TKI perlindungan trauma perjuangan kemanusiaan
Tokoh: Rappe, Yarius
Organisasi: Rumah Perlindungan Trauma Center, RPTC Nunukan
Lokasi: Nunukan, Bulukumba, Kalimantan Utara, Malaysia

Artikel terkait