Kegelapan tebal membungkus rumah-rumah kayu di Dusun Batu Lihat, perbatasan Entikong, Kalimantan Barat. Di seberang pagar negara, seberkas lampu-lampu neon dari Serawak, Malaysia, memancar terang dan konstan, menjadi siluet kontras yang menusuk bagi warga Indonesia di sisi ini. Suara generator kecil yang mendengung sesekali dari warung yang masih berusaha bertahan pecah oleh desau angin malam yang membawa hawa lembab. Di tengah listrik padam yang telah berlangsung 8 jam, suasana sunyi ini bukan ketenangan, melainkan kelumpuhan. Citra dua dunia dalam satu pemandangan mata—terang di sana, gelap di sini—adalah pengantar pahit bagi laporan dari perbatasan Entikong.
Potret Kegelapan di Ujung Negeri: Lilin, Senter, dan Rasa Pasrah
Di teras rumah papan milik Sari (38), cahaya lilin kecil berkedip-kedip menerangi buku tulis putrinya yang duduk lesehan di lantai. "Sudah biasa, bisa 12 jam lebih," ucap Sari dengan suara datar, tangannya menepuk-nepuk punggung anaknya. Matanya sesekali melirik ke arah lampu-lampu terang benderang dari desa tetangga di seberang perbatasan. Di sekelilingnya, aktivitas ekonomi malam lumpuh total. Warung makan tutup rapat, kios-kios sepi, dan lorong-lorong kampung hanya diterangi oleh lampu senter yang melintas. Kesulitan warga bertambah dengan lenyapnya rasa aman; malam menjadi lebih sunyi dan rentan. Kondisi ini bukan cerita baru, melainkan episode berulang yang telah mengikis kesabaran.
- Akses penerangan darurat: Hanya bergantung pada lilin, lampu minyak, dan senter.
- Dampak ekonomi: Warung, kios, dan usaha rumahan terpaksa menghentikan operasi malam hari.
- Dampak sosial: Rasa aman masyarakat menurun drastis saat gelap menyelimuti.
Dari Puskesmas Hingga Dapur: Krisis yang Menyentuh Sendi-Sendi Kehidupan
Krisis ini merembet hingga ke pusat layanan dasar. Di Puskesmas Pembantu Entikong, seorang bidan bernama Iwan harus pernah menangani persalinan dengan mengandalkan senter kepala dan lampu darurat. "Kondisinya mendesak, kita harus tetap membantu. Tapi bayangkan betapa riskannya," kenangnya. Rak-rak penyimpanan vaksin dan obat-obatan yang memerlukan rantai dingin menjadi ancaman berikutnya. Sementara itu, di dapur rumah-rumah warga, persediaan bahan makanan mulai terancam karena kulkas tidak berfungsi. Kontras dengan kehidupan di seberang, di mana aktivitas malam berjalan normal dengan penerangan memadai, menciptakan perasaan terisolasi dan diabaikan. Tuntutan warga kini bergeser dari sekadar mengeluh menjadi seruan konkret: solusi permanen untuk infrastruktur energi yang tangguh.
Suara protes yang mengeras dari warga Entikong adalah cermin kekecewaan yang lebih dalam. Bagi mereka, listrik yang stabil telah berubah makna; ia bukan lagi sekadar utilitas, melainkan simbol nyata kehadiran negara dan bukti komitmen keadilan. Setiap kali jaringan listrik padam dan kegelapan kembali, padam pula secercah kepercayaan terhadap janji pemerataan pembangunan. "Kami merasa seperti di pinggiran, bukan di garis depan," ucap seorang tokoh pemuda setempat. Ketergantungan pada jaringan yang rentan dan perbaikan darurat yang bersifat sementara hanya memperkuat kesan sebagai warga negara kelas dua di tanah sendiri.
Namun, di balik kegelapan dan rasa pasrah, semangat untuk bertahan dan seruan untuk diperhatikan terus menyala. Warga perbatasan seperti di Entikong adalah penjaga kedaulatan yang hidup dengan ketangguhan luar biasa. Tantangan akan listrik padam ini adalah ujian nyata bagi komitmen nasional kita. Membangun perbatasan yang berdaulat dan sejahtera dimulai dari memastikan lampu tetap menyala di rumah-rumah para penjaga tapal batas. Saat cahaya dari negeri tetangga terus berkedip, sudah saatnya kita memastikan bahwa cahaya di sisi Indonesia bersinar lebih terang, lebih stabil, dan lebih membanggakan—sebagai tanda bahwa Indonesia hadir dengan penuh di setiap jengkal tanah airnya, terutama di garis terdepan.