SUARA PERBATASAN

Festival Budaya Nusantara di Perbatasan: Gandeng Tangan Suku Lundayeh dan Suku Murut di Long Midang

Festival Budaya Nusantara di Perbatasan: Gandeng Tangan Suku Lundayeh dan Suku Murut di Long Midang

Festival di Long Midang mempersatukan Suku Lundayeh dan Murut di tapal batas, menunjukkan ikatan budaya lebih kuat dari garis negara. Generasi garis depan berjanji menjaga hubungan ini, mengajarkan bahwa nasionalisme tumbuh dari tangan bergandengan di ujung negeri.

Kabut pagi menyibak lapangan sederhana di Long Midang, desa yang berdiri tepat di tapal batas Kalimantan Utara—tempat dimana bayangan dua negara menyatu dalam satu tanah. Suara Sape’ mengiris udara, merdu dan mendayu, mengundang matahari untuk menyaksikan ritual persaudaraan yang lebih tua daripada garis perbatasan itu sendiri. Di udara berbau tanah basah dan aroma lemang yang dibakar, warga dengan wajah terbentuk oleh kehidupan di garis terdepan mulai berkumpul. Dari sisi Indonesia, Suku Lundayeh berjalan tenang; dari sisi Malaysia, Suku Murut datang dengan senyum serupa. Mereka bukan delegasi negara, tetapi keluarga yang kembali ke rumah leluhur yang sama.

Potret Perbatasan: Tarian yang Menghapus Garis Batas

Pakaian adat berwarna merah terang, kuning emas, dan hijau daun membalut tubuh penari. Bulu burung enggang, simbol keluhuran dan kebersamaan, tegak berdiri di kepala mereka. Mereka bergandengan tangan, jari-jari saling mengait, membentuk lingkaran tak terputus. Tarian ‘Datun Julud’ bergerak maju, langkah kaki seirama melintasi lapangan, melintasi tugu batu kecil—satu-satunya tanda fisik yang membagi wilayah. Mata mereka, dari kedua suku, memancarkan kepercayaan yang sama. Kondisi lapangan adalah cermin keinginan bersatu:

  • Tanah lapangan sedikit bergelombang, dikelilingi rumah kayu sederhana.
  • Infrastruktur megah tak ada, hanya semangat bersama yang kuat.
  • Stan kuliner menjajakan menu identik: lemang, ikan asam pedas, sayur umbut rotan—cerminan budaya serumpun tanpa batas administrasi.

Generasi Garis Depan: Janji di Ujung Negeri

Pak Inghai (70), tetua adat Lundayeh, wajahnya penuh ukiran kisah hidup di perbatasan, mengangguk mengikuti irama. 'Dulu sebelum ada garis ini, kami satu keluarga. Sekarang acara seperti ini mengingatkan kita bahwa darah kita sama, budaya kita serumpun,' ucapnya, kata-kata yang bukan nostalgia tetapi fondasi. Di sisi lain, anak-anak berlarian tanpa bebas. Aldi, remaja dari Long Midang, dengan bangga menunjukkan gerakan tarian kepada sepupunya dari Long Pasia, Sabah. 'Kami janji untuk terus menjaga hubungan ini, biar di mana pun kami tinggal,' tekadnya adalah suara generasi baru yang tumbuh dengan dua identitas namun satu keyakinan. Festival ini adalah sekolah kehidupan bagi mereka.

Budaya di Perbatasan Long Midang bukan hanya tentang festival. Ia adalah narasi hidup dari Suku Lundayeh dan Suku Murut yang menjaga ikatan lebih kuat dari garis imajiner pada peta. Di tanah ini, nasionalisme tumbuh bukan dari retorika, tetapi dari tangan yang bergandengan, dari lemang yang dibakar bersama, dan dari janji generasi yang memahami bahwa rumah leluhur mereka tak pernah terbagi. Membaca kisah ini, kita diingatkan: tugas kita bukan hanya menjaga garis batas negara, tetapi juga memelihara denyut nadi persaudaraan di setiap titik hidup di ujung negeri.

Festival Budaya Nusantara persaudaraan lintas batas budaya serumpun tarian adat
Lokasi: Long Midang, Kalimantan Utara, Indonesia, Malaysia

Artikel terkait