SUARA PERBATASAN

Gotong Royong di Perbatasan, TNI-Polri dan Warga Percantik Rumah Adat Panca Sekayam

Gotong Royong di Perbatasan, TNI-Polri dan Warga Percantik Rumah Adat Panca Sekayam

Di Desa Pengadang, Sanggau, Kalimantan Barat, semangat gotong royong antara TNI-Polri dan warga menghidupkan kembali Rumah Adat Panca Sekayam melalui aksi pengecatan dan perawatan. Kolaborasi ini memperkuat bukan hanya bangunan adat, tetapi juga rajutan kebersamaan dan ketahanan sosial-budaya di tapal batas Indonesia-Malaysia, membuktikan bahwa di garis depan, pelestarian identitas sama pentingnya dengan penjagaan kedaulatan.

Pukul 07.00 WIB, matahari baru saja menerobos kabut tipis yang menyelimuti Dusun Pengadang, desa terpencil di Kecamatan Sekayam, Kabupaten Sanggau. Suhu udara sudah terasa hangat, bercampur aroma tanah basah dan dedaunan. Di tengah hijaunya Kalimantan Barat yang berbatasan langsung dengan Serawak, Malaysia, denyut kehidupan pagi itu bukan di pasar atau jalan utama, melainkan berpusat di sebuah bangunan kayu besar: Rumah Adat Panca Sekayam. Suara gemerincing kaleng cat, letakan kuas di ember, dan derap langkah puluhan orang mengisi udara yang biasanya hanya diwarnai kicau burung dan desir angin dari perbatasan. Inilah pemandangan hari itu—sebuah kanvas gotong royong sedang dilukis di garis terdepan negeri, melibatkan tangan-tangan kasar prajurit TNI dari Satgas Pamtas Yon Arhanud 1 Kostrad, anggota Polsek Sekayam, dan puluhan warga setempat yang berkumpul tanpa paksaan.

Warna Baru di Ujung Negeri: Menyatukan Kuas di Atas Panggung Budaya

Lapisan cat hijau dan coklat tua yang memudar, mengelupas di beberapa bagian, perlahan-lahan ditutupi oleh warna baru yang segar. Debu kayu beterbangan ketika beberapa warga dengan semangat menyapu lantai panggung rumah adat yang tinggi. Tidak ada hierarki yang kaku di sini. Seorang prajurit TNI dengan seragam lorengnya, dengan cekatan membantu seorang bapak paruh baya mengaduk cat di ember besar. Beberapa meter darinya, AKP Dr. Sutikno, Kapolsek Sekayam, tak sungkan menggulung lengan baju dan mengangkat kuas, mengecat pagar kayu yang sudah mulai lapuk. Mereka bekerja berdampingan, keringat bercampur, dalam sebuah simfoni kerja bakti yang organik. Infrastruktur budaya di perbatasan seringkali terlupakan, namun hari itu, Rumah Adat Panca menjadi saksi bisu sebuah komitmen kolektif:

  • Kondisi Fisik Awal: Cat memudar, kayu berdebu, dan pagar yang mulai rapuh—potret umum banyak aset budaya di wilayah terluar.
  • Suara Warga: “Rumah adat ini bukan cuma bangunan, tapi jiwa kami. Senang sekali Bapak-bapak TNI-Polri datang bantu,” ujar Markus, salah satu warga yang ikut menyapu, sambil tersenyum lebar.
  • Aksi Nyata: Proses pengecatan, perbaikan pagar, dan pembersihan total halaman dari rumput liar dilakukan secara sistematis namun penuh keakraban.

Di latar belakang, hutan perbatasan menghampar hijau, mengingatkan betapa lokasi ini adalah garda terdepan identitas Indonesia. Aktivitas ini lebih dari sekadar proyek fisik; ia adalah proses pemulihan martabat dan kebanggaan warga atas simbol budayanya sendiri.

Dari Beranda Rumah Adat: Merajut Kebersamaan di Tapal Batas

Saat istirahat tiba, pemandangan semakin menghangat. Para prajurit, polisi, dan warga duduk bersila berbaur di beranda rumah adat yang baru saja dibersihkan. Mereka berbagi kue tradisional dan minuman hangat dari teko besar. Tawa dan canda mengalir, menghapus segala jarak. Seorang ibu dengan lincah membagikan pisang goreng kepada para prajurit muda, sebuah gestur keibuan yang dalam di ujung negeri. Di sinilah esensi dari sinergi TNI-Polri dan masyarakat terlihat nyata. Bukan sebagai pelindung dan yang dilindungi, melainkan sebagai keluarga yang sedang memuliakan rumah leluhurnya bersama-sama. Kepercayaan (trust) yang dibangun dalam kesetaraan kerja bakti seperti ini adalah pondasi kokoh ketahanan nasional di wilayah perbatasan. Pagar rumah adat yang kini putih bersih berdiri tegak, bukan hanya sebagai pembatas fisik halaman, tetapi menjadi metafora semangat yang diperkuat—kokoh, terawat, dan penuh kebanggaan.

Kehadiran Rumah Adat Panca yang kembali bersinar di Desa Pengadang, Sanggau, adalah sebuah pernyataan. Ia membuktikan bahwa di garis depan, di mana pengawasan keamanan adalah hal vital, ketahanan budaya dan sosial memiliki porsi yang sama pentingnya. Semangat gotong royong ini menjawab sebuah pertanyaan mendasar: bagaimana merawat Indonesia? Jawabannya ada di sini, dengan kuas dan sapu di tangan, dengan duduk bareng di beranda, dengan memastikan bahwa setiap simbol kebangsaan, termasuk rumah adat, di setiap jengkal tanah perbatasan, tetap berdiri gagah dan terawat. Inilah bentuk nasionalisme yang paling konkrit—bekerja bersama, berkeringat bersama, dan menjaga warisan bersama, persis di bibir negeri yang berhadapan langsung dengan negara tetangga.

Ketika sore mulai menyingsing di perbatasan Kalimantan Barat, cahaya keemasan menyentuh atap Rumah Adat Panca yang baru dicat. Suasana hening kembali, namun kini penuh dengan aura baru—aura kepedulian dan kebersamaan. Setiap goresan cat baru, setiap paku yang tertancap, adalah ikrar bahwa Indonesia hadir hingga ke pelosoknya yang terjauh, bukan hanya melalui penjagaan perbatasan, tetapi lewat kehangatan pelestarian budaya. Untuk kita yang hidup di kota, cerita dari Dusun Pengadang ini mengajak untuk sejenak menengok ke ujung barat negeri, di mana warga dan penjaga perbatasan tak hanya berjaga untuk kedaulatan wilayah, tetapi juga dengan penuh cinta merawat jiwa dan identitas bangsa. Di sanalah Indonesia sesungguhnya hidup dan bernafas.

bakti sosial gotong royong perbatasan budaya sinergi sosial
Tokoh: AKP Dr. Sutikno
Organisasi: TNI, Polri, Satgas Pamtas Batalyon Arhanud 1 Kostrad, Polsek Sekayam
Lokasi: Desa Pengadang, Kecamatan Sekayam, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, Indonesia, Malaysia

Artikel terkait