SUARA PERBATASAN

Guru Pegunungan di Perbatasan Papua: Mengajar dengan Sinar Lentera

Guru Pegunungan di Perbatasan Papua: Mengajar dengan Sinar Lentera
Cahaya kuning lentera minyak tanah menari-nari di dinding kelas dari papan kayu sederhana, menerangi wajah-wajah lugu anak-anak suku pedalaman perbatasan Papua. Di depan mereka, berdiri seorang guru muda dari Jawa, Pak Andi, dengan papan tulis kecil dan kapur yang hampir habis. Suaranya yang lembut namun tegas menggema di ruangan sempit itu, mengajarkan huruf dan angka, juga lagu Indonesia Raya. Jalan menuju sekolah ini adalah jejak setapak di lereng curam, dilalui Pak Andi setiap pagi dengan sepatu boots yang sudah bocor. Tidak ada listrik, tidak ada sinyal telepon, yang ada hanya tekad untuk mencerdaskan anak-anak bangsa di ujung negeri. Buku pelajaran yang terbatas ia salin ulang dengan tangan di atas kertas bekas. Namun, semangat belajar anak-anak di sini luar biasa, mata mereka berbinar menyerap setiap ilmu yang diberikan. Malam hari, setelah mengajar, Pak Andi sering duduk di beranda pondoknya, memandang bintang-bintang yang berkerumun di langit pegunungan. Di kejauhan, ia bisa melihat titik lampu dari pos perbatasan. Ia sadar, tugasnya tidak hanya mengajar baca tulis, tetapi juga menanamkan rasa cinta tanah air dan persatuan pada generasi penerus yang hidup di garis terdepan negara. Setiap anak yang bisa membaca adalah kemenangan kecil melawan kebodohan, setiap anak yang menyanyikan Indonesia Raya dengan khidmat adalah investasi masa depan bangsa.

Artikel terkait