Pagi di PLBN Skouw, Kota Jayapura, Papua, tampak megah dengan bangunan anyar yang menjulang. Gapura perbatasan berbentuk burung cenderawasih itu menjadi latar foto favorit wisatawan dan pengunjung yang melintas ke perbatasan Papua Niugini. Namun, begitu melewati gerbang utama, pemandangan berubah drastis. Jalan aspal dari PLBN menuju Kampung Skouw Yambe penuh lubang bergelombang sepanjang 5 kilometer. Sebuah truk kontainer asal negara tetangga terpaksa merayap pelan, diikuti kabut debu tebal yang mengepul dari roda. Warga perbatasan yang hendak ke pasar tradisional harus berhati-hati. Mamak Ros, seorang pedagang sayur dari Kampung Skouw Mabo, mengayuh sepeda ontelnya sambil membawa dua keranjang sayur-mayur. "Jalan ini dari dulu rusak. Mobil patroli TNI saja kadang susah lewat kalau hujan. Tapi bangunan barunya bagus," katanya sambil tertawa getir.
Kontras Pembangunan: Megah di Gerbang, Rusak di Jalan Akses
Di satu sisi, infrastruktur PLBN Skouw makin kokoh. Pos pemeriksaan, gedung administrasi, dan plaza seremonial berdiri gagah dengan arsitektur khas Papua. Namun di sisi lain, jalan akses yang menghubungkan PLBN dengan pemukiman warga masih memprihatinkan. Kondisi ini menciptakan kesenjangan nyata antara pembangunan simbolis dan kebutuhan riil masyarakat garis depan.
- Jalan aspal sepanjang 5 kilometer dari PLBN ke Kampung Skouw Yambe penuh lubang dan bergelombang.
- Saat hujan, jalan berubah menjadi lumpur licin yang menyulitkan kendaraan roda dua dan patroli TNI.
- Debu tebal mengepul setiap kali truk kontainer melintas, mengganggu pernapasan warga dan mengotori barang dagangan.
- Belum ada tanda-tanda pengerjaan perbaikan meski Gubernur Papua menyebutkan prioritas APBD 2026.
Suara dari Kampung Skouw: Harapan di Tengah Debu dan Lubang
Mamak Ros bukan satu-satunya yang merasakan pahitnya akses jalan rusak. Para petani, nelayan, dan pedagang di Kampung Skouw Mabo, Skouw Yambe, dan Skouw Sae harus menempuh jalur ekstrem setiap hari. "Setiap kali hujan, dagangan saya banyak yang rusak kena lumpur. Tapi kami tetap berangkat karena inilah satu-satunya jalan menuju pasar," ujar Bapak Markus, petani sayur asal Skouw Sae. Tak hanya warga sipil, personel TNI dari Satgas Pamtas Yonif 122/Tombak Sakti juga kerap kesulitan melintas, terutama saat patroli malam hari. Kondisi ini menjadi ironi di tengah megahnya PLBN yang disebut sebagai wajah Indonesia di ujung timur.
Di seberang, pos perbatasan terus dibangun. Buruh bangunan dari Jayapura hilir mudik membawa semen dan besi. Namun, bahan bangunan pun harus diangkut dengan truk yang merayap di jalan berlubang. Biaya logistik membengkak, sementara waktu tempuh molor. "Kami sering terjebak macet karena truk mogok di jalan rusak," keluh seorang mandor proyek yang enggan disebut namanya. Di lapangan, terlihat tumpukan aspal dan alat berat yang belum berfungsi. Tak ada jadwal pasti kapan perbaikan dimulai.
Di tengah segala keterbatasan, semangat warga perbatasan tetap membara. Mereka terus berjualan, bertani, dan menjaga hubungan dengan saudara di seberang. Seorang pemuda setempat, Yosua, menyempatkan diri berfoto di depan gapura cenderawasih sambil berkata, "Suatu saat, jalan ini pasti mulus. Karena kami bangga jadi bagian dari Indonesia, meski di ujung negeri." Kalimat itu menggema di antara deru truk dan debu yang beterbangan. Infrastruktur PLBN Skouw mungkin sudah kokoh, namun jalan akses yang masih berlubang mengingatkan kita semua bahwa pembangunan sejati haruslah merata hingga ke kampung-kampung di garis depan.