Jalur Usang Penghubung Desa-Desa di Perbatasan Sanggau, Kalbar: 'Musim Hujan, Kami Terisolasi'
08 Mei 2026
10 views
Foto udara menunjukkan hamparan hutan hijau yang dibelah oleh garis coklat berkelok-kelok seperti ular tanah. Itulah jalan tanah penghubung Desa Entikong dengan Desa Sungai Kelik di Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, berjarak hanya 15 km dari perbatasan Malaysia. Di permukaan tanah, kondisi sesungguhnya lebih keras. Jalan berlubang-lubang besar, becek, dan dipenuhi genangan air kotor selepas hujan semalam. Sebuah truk bermuatan kayu olahan terperosok di lubang, rodanya berputar di tempat, menyemburkan lumpur ke segala arah. Sopirnya, Udin, turun dengan wajah masam. 'Ini sudah biasa. Barang kiriman ke pasar Entikong bisa terlambat berhari-hari. Harga jadi mahal,' keluhnya.
Di tepi jalan, sekelompok anak sekolah bersepeda dengan susah payah, seragam mereka cipratan lumpur. Mereka harus menempuh 7 km jalan seperti ini setiap hari. 'Pernah jatuh sampai ke kubangan. Buku basah semua,' cerita Rina, salah seorang pelajar SMP. Beberapa warga dengan sepeda motor malah memilih berjalan di pinggir jalan, mendorong motornya yang tak lagi mampu menembus lumpur tebal.
Di sebuah warung di ujung jalan yang agak mulus, para sopir angkutan desa berkumpul. Mereka minum kopi pahit membahas nasib jalan yang tak kunjung diperbaiki. 'Kami ini urat nadi perbatasan. Kalau urat nadinya macet, bagaimana kehidupan di desa-desa ujung ini bisa sehat?' tanya Marno, ketua kelompok sopir. Mereka telah mengajukan proposal perbaikan jalan berulang kali, tetapi realisasi selalu tertunda. Impian mereka sederhana: jalan tanah yang disiram batu kali dan digiling, agar tak lagi menjadi penghalang mobilitas dan kemajuan warga di garis terdepan.
infrastruktur jalan rusakisolasi warga perbatasanperbaikan jalan tertunda
Entitas terkait
Tokoh: Udin, Rina, Marno
Lokasi: Desa Entikong, Desa Sungai Kelik, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, Malaysia