Di bawah langit kelabu Nusa Tenggara Timur, Desa Fatumtasa di Kabupaten Timor Tengah Utara masih menjadi saksi bisu perjuangan warga melawan dua musuh utama: jalan rusak dan sinyal yang hilang. Hanya 15 kilometer dari Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Wini, gerbang kedaulatan Indonesia menuju Timor Leste, aspal hitam berakhir mendadak digantikan tanah berbatu dan berlubang. Air keruh menggenang di setiap cekungan, sisa-sisa hujan semalam. Di beberapa titik, tebing longsor menyisakan tepian yang getas—siap menelan siapa pun yang lengah. Seorang bapak paruh baya, dengan sepeda motor bututnya, berkeringat dingin meliuk-liuk menghindari bahaya. Dia bukan sedang menjelajah pedalaman terpencil, melainkan melintas di urat nadi perbatasan yang seharusnya menjadi wajah negara.
Jalan yang Menjerit: 15 Kilometer Kepedihan
Di lapangan, kondisi infrastruktur jalan di perbatasan NTT ini sungguh memprihatinkan. Aspal seolah menjadi barang mewah yang hanya hadir di papan nama pemerintahan. Di sepanjang jalan menuju PLBN Wini, warga dan pengendara harus menghadapi kenyataan pahit:
- Jalan beraspal tiba-tiba berubah menjadi tanah berbatu dan berlubang tanpa peringatan
- Lubang-lubang besar terisi air keruh setelah hujan, menyembunyikan kedalaman yang berbahaya bagi kendaraan roda dua maupun roda empat
- Tebing di beberapa titik tampak longsor, meninggalkan tepian jalan yang mengkhawatirkan bagi siapa pun yang melintas
- Kondisi ini hanya berjarak 15 kilometer dari PLBN Wini, simbol kedaulatan negara yang idealnya dikelilingi infrastruktur yang representatif
Bagi warga, jalan ini bukan sekadar akses, melainkan urat nadi yang menghubungkan mereka dengan pasar, pendidikan, dan layanan kesehatan. Setiap perjalanan menjadi pertaruhan keselamatan dan waktu.
Pengungsi Sinyal: Ritual Harian di Atas Bukit
Masalah tak berhenti di jalan rusak. Di Fatumtasa dan sekitarnya, untuk sekadar mendapatkan sinyal telepon atau internet, warga harus melakukan ritual harian: mendaki bukit terdekat. Di puncak bukit itu, pemandangan yang pahit namun biasa terlihat: sosok-sosok remaja dan dewasa duduk di bebatuan atau di bawah pohon, menatap layar ponsel mereka. Mereka adalah 'pengungsi sinyal', yang rela menghabiskan waktu berjam-jam di ketinggian hanya untuk mengirim pesan, mengakses informasi, atau sekadar mengikuti perkembangan dunia luar. Seorang pemuda dengan jujur mengakui, terkadang tugas sekolah atau urusan pekerjaan tertunda karena harus menunggu sinyal yang baik. Di garis depan, kemajuan teknologi yang dinikmati daerah lain terasa begitu jauh.
Setelah mengikuti upacara HUT RI di Ruang Terbuka Publik Insana Utara, harapan yang terlontar dari bibir warga terdengar mirip dengan saudara-saudara mereka di perbatasan lain. 'Perbaiki jalan dan jaringan internet,' ucap mereka. Bagi warga perbatasan Timor Leste dan NTT, kedua hal ini bukan sekadar fasilitas, melainkan urat nadi penghubung dengan pemerintah, pasar, pendidikan, dan layanan kesehatan. Di wilayah yang seharusnya menjadi wajah kedaulatan negara, mereka merasa hidup di zaman yang berbeda—di mana infrastruktur|jalan rusak|jaringan internet masih menjadi jeritan yang menggema dari ujung timur Nusantara. Inilah realitas garis depan yang butuh kepedulian.