POTRET GARIS DEPAN

Kehidupan Suku di Perbatasan RI-PNG yang Masih Bergantung pada Listrik Tenaga Surya dan Sungai

Kehidupan Suku di Perbatasan RI-PNG yang Masih Bergantung pada Listrik Tenaga Surya dan Sungai
Di dalam honai (rumah tradisional) berbentuk bulat dengan atap jerami di Kampung Skofro, perbatasan Papua, cahaya redup dari satu-satunya lampu LED tenaga surya menyinari wajah anak-anak yang sedang mengerjakan PR. Di luar, gelap sudah menyelimuti lembah. Listrik dari panel surya yang disediakan pemerintah itu hanya bertahan beberapa jam, itupun jika matahari siang cukup terik. Sumber penerangan lain adalah api unggun dan lentera minyak tanah. Sungai di dekat kampung bukan hanya sumber air minum dan mandi, tetapi juga 'pendingin alami' untuk menyimpan beberapa bahan makanan dan tempat anak-anak bermain. Potret kehidupan sehari-hari suku di sini adalah campuran antara tradisi yang terjaga dan teknologi sederhana yang mencoba menembus isolasi. Ibu-ibu masih memasak dengan tungku kayu bakar, sementara para pemuda kadang menangkap sinyal ponsel lemah dari menara BTS terdekat yang jaraknya satu hari jalan kaki. "Kami terbiasa dengan gelap dan dinginnya malam. Tapi kami ingin anak-anak bisa belajar lebih lama, bisa lihat dunia lewat internet seperti anak kota," kata Kepala Kampung, Yoseph. Wajah-wajah polos anak-anak yang tertawa bermain di sungai jernih kontras dengan bayangan ketertinggalan yang menghantui. Mereka hidup di tanah yang kaya, di garis terdepan negara, namun dalam kenyataan yang jauh dari gemerlap kemajuan. Setiap tetes cahaya dari lampu surya adalah harapan kecil yang menyala di tengah rimba perbatasan.
kehidupan suku perbatasan listrik tenaga surya keterbatasan listrik ketertinggalan daerah teknologi sederhana di daerah terpencil
Tokoh: Yoseph
Lokasi: Kampung Skofro, Papua, RI-PNG, perbatasan Papua

Artikel terkait