INFRASTRUKTUR

Ketahanan Pangan di Wilayah Perbatasan, Kodim 0911/Nunukan Hadir Bergerak Bersama Kelompok Tani Matirowali di Desa Binusan

Ketahanan Pangan di Wilayah Perbatasan, Kodim 0911/Nunukan Hadir Bergerak Bersama Kelompok Tani Matirowali di Desa Binusan

Di Desa Binusan, Nunukan, program TMMD berwujud pendampingan langsung Kodim 0911/Nunukan kepada Kelompok Tani Matirowali, mengubah lahan tadah hujan menjadi kebun harapan untuk ketahanan pangan. Sinergi prajurit dan petani di bawah terik matahari perbatasan melahirkan solusi nyata atas keluhan pupuk, hama, dan akses pasar, menanamkan optimisme sekaligus kedaulatan pangan. Kehadiran negara di garis depan terbukti melalui pemberdayaan yang membangun kemandirian, memastikan penjaga perbatasan juga menjadi produsen pangan yang bermartabat.

Di Desa Binusan, Nunukan, angin pagi yang menerpa perbatasan Indonesia-Malaysia membawa aroma tanah basah yang baru dibajak. Dari kejauhan, garis hijau hutan membatasi langit biru dengan daratan yang kini penuh geliat. Sebuah panorama harapan terpancar jelas di lahan seluas tiga hektar ini, di mana seragam hijau TNI dan baju lusuh para petani menyatu dalam sebuah koreografi kerja yang harmonis. Mereka bukan sedang berlatih perang, melainkan berperang melawan kerawanan pangan di ujung negeri, dengan bibit dan cangkul sebagai senjata utama. Ketahanan Pangan di garis depan bukan lagi wacana, tapi aksi nyata yang terlihat dari tiap keringat yang menetes ke tanah merah Binusan.

Tangan Bersenjata dan Cangkul: Potret Sinergi di Bawah Terik Matahari Perbatasan

Komandan Kodim 0911/Nunukan tak segan berlutut di atas bedengan, tangan beliau yang biasanya memegang peta operasi kini menggenggam bibit unggul dengan cermat. Celana panjang lorengnya sudah penuh coretan tanah, menjadi bukti kesungguhan yang lebih meyakinkan daripada seribu pidato. Di sisinya, anggota Kelompok Tani Matirowali yang dipimpin Bapak Rahman (45) mengikuti setiap gerakan dengan tekun. ‘Ini baru contoh prajurit, datang langsung, turun langsung,’ ujar Rahman sambil menyeka keringat dengan lengan bajunya. Program TMMD yang biasanya identik dengan pembangunan fisik jembatan atau jalan, di Nunukan berwajah lain: sebuah investasi jangka panjang pada kemandirian dan martabat warga perbatasan sebagai produsen pangan.

  • Kondisi Lahan: Lahan tadah hujan seluas 3 hektar yang sebelumnya kurang produktif, kini diolah dengan traktor tangan bantuan Kodim, mengatasi keterbatasan tenaga manual.
  • Suara Warga: ‘Harga pupuk naik, ancaman babi hutan dari seberang perbatasan sering, kami butuh pendampingan teknis,’ keluh Sari (38), petani perempuan yang aktif dalam kelompok.
  • Fakta Lapangan: Sinergi ini menghasilkan rencana tanam komoditas bernilai ekonomi tinggi seperti cabai dan bawang merah, yang disesuaikan dengan iklim dan pasar lokal Nunukan.

Dari Lingkaran Diskusi di Bawah Pohon: Benih Optimisme Tumbuh Bersama Padi

Saat matahari tepat di atas kepala, aktivitas beralih ke bawah naungan pohon randu yang rindang. Para prajurit dan petani duduk melingkar, berbagi air minum dalam jerigen plastik dan cerita dari dua dunia yang berbeda namun kini menyatu. Bukan sekadar jeda, momen ini adalah ruang konsultasi terbuka. Prajurit mendengarkan, mencatat di buku lapangan yang belepotan tanah, setiap keluhan tentang akses pasar dan serangan hama. ‘Catatan Bapak-Ibu kami bawa, akan kami koordinasikan dengan Dinas Pertanian,’ janji seorang Sersan dengan nada serius. Di sini, pemberdayaan berarti mendengarkan sebelum bertindak, memahami akar masalah sebelum menawarkan solusi.

Suara mesin traktor yang sesekali menderu menjadi soundtrack kerja ini, memecah kesunyian desa perbatasan yang seringkali hanya didengar gemericih Sungai Sembakung. Kehadiran negara dalam wujud pendampingan teknis dan alat pertanian menumbuhkan lebih dari sekadar tanaman. Ia menumbuhkan keyakinan bahwa warga di garis terdepan NKRI tidak sendiri. ‘Kami jaga perbatasan, kami juga harus bisa menghidupi diri sendiri dari tanah kami sendiri,’ ujar Komandan Kodim, menegaskan filosofi operasi ini. Setiap bibit yang tertanam adalah deklarasi kedaulatan pangan, pernyataan bahwa di tanah yang berbatasan langsung dengan negara lain, Indonesia tetap tumbuh subur dan mandiri.

Lensa-Teritorial menyaksikan, di ujung paling utara Kalimantan ini, semangat menjaga merah putih tidak hanya berkibar di tiang bendera pos perbatasan, tetapi juga mengakar di setiap jengkal tanah yang digarap. Setiap petani di Kelompok Tani Matirowali adalah pejuang ketahanan nasional dengan medan perang berupa sawah dan ladang. Mereka memastikan bahwa keamanan wilayah tidak hanya diukur dari keteguhan pos penjagaan, tetapi juga dari kepastian bahwa tidak ada satu pun anak perbatasan yang tidur dalam keadaan lapar. Inilah wajah nasionalisme yang paling konkret: merawat kedaulatan dari dalam, dimulai dari piring makan warga yang paling berdaulat di tanahnya sendiri.

Ketahanan Pangan TMMD Sinergi TNI-Petani Kemandirian Pangan
Tokoh: Komandan Kodim 0911/Nunukan
Organisasi: Kodim 0911/Nunukan, TNI, Kelompok Tani Matirowali
Lokasi: Nunukan, Desa Binusan, Indonesia, Malaysia

Artikel terkait