NASIONALISM

Kisah Guru Sukarelawan di Sota, Papua: Mengajar di Bawah Tiang Bendera Perbatasan

Kisah Guru Sukarelawan di Sota, Papua: Mengajar di Bawah Tiang Bendera Perbatasan
Ruang kelasnya adalah sebuah bangunan semi permanen dengan dinding kayu yang bolong-bolong. Papan tulisnya sudah pudar. Namun, di depan bangunan itu, tiang bendera setinggi 50 meter dengan Sang Saka Merah Putih yang berkibar megah menjadi latar belakang yang tak tergantikan. Inilah Sekolah Dasar di Sota, Merauke, berbatasan langsung dengan Papua Nugini. Di sinilah Maria, seorang guru sukarelawan asal Jawa, menghabiskan hari-harinya. Suaranya lantang mengajarkan huruf dan angka kepada puluhan anak-anak dengan mata berbinar. Beberapa anak datang dengan kaki telanjang, seragam lusuh, tetapi semangat belajar mereka tak kalah dengan anak-anak di kota. Di sela-sela pelajaran, Maria sering menunjuk ke bendera di luar. "Kita belajar di sini, di ujung timur Indonesia. Kalian adalah masa depan bangsa di perbatasan," katanya. Kehadiran guru seperti Maria adalah nyawa bagi pendidikan di tapal batas. Mereka bukan hanya mengajar ilmu pengetahuan, tetapi juga menanamkan rasa cinta tanah air dan identitas kebangsaan kepada generasi yang hidup di daerah rawan dan terpencil. Setiap kali bendera dikibarkan setiap Senin pagi, dengan latar bukit hijau Papua Nugini di kejauhan, upacara itu memiliki makna yang sangat mendalam. Di situlah, di antara rerumputan dan suara kicau burung, nasionalisme diajarkan bukan dengan teori, tetapi dengan pemandangan kedaulatan yang nyata.
guru sukarelawan pendidikan di perbatasan nasionalisme
Tokoh: Maria
Lokasi: Sota, Papua, Merauke, Papua Nugini, Indonesia, Jawa

Artikel terkait