NASIONALISM

Lagu Daerah di Perbatasan: Sanggar Tari Muda-Mudi Pulau Rote Menjaga Identitas

Lagu Daerah di Perbatasan: Sanggar Tari Muda-Mudi Pulau Rote Menjaga Identitas

Di Desa Nemberala, Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, sebuah sanggar tari sederhana pimpinan Ibu Ina menjadi benteng perlawanan kultural anak muda perbatasan terhadap arus globalisasi. Melalui pelestarian Tari Leke yang nyaris punah, remaja-remaja ini tidak hanya menjaga identitas budaya tetapi juga berkontribusi menjaga kedaulatan negara dengan memamerkan kekayaan Indonesia di bibir perbatasan. Setiap gerakan mereka adalah deklarasi hidup bahwa di ujung selatan Nusantara, semangat kebangsaan tetap tegak, dirawat oleh generasi yang bangga akan akarnya.

Gemuruh tabuhan gendang dan alunan sasando yang menyayat menyembul dari bangunan semi-permanen berlapis seng di bibir pantai Desa Nemberala, Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur. Di dalam sanggar sederhana yang diterpa angin laut itu, sepuluh remaja dengan kostum tenun khas Rote—bermotif kelewang dan fata’uk—bergerak lincah mengikuti irama ‘Tari Leke’, sebuah warisan budaya yang nyaris terkubur zaman. Di balik jendela tanpa kaca, bentangan laut Sawu membiru hingga ke cakrawala, membentuk garis imajiner perbatasan alamiah Indonesia dengan Australia di sebelah selatan. Setiap hentakan kaki di papan kayu yang reyot itu bukan sekadar gerak tari, melainkan deklarasi keberadaan: di pulau terdepan ini, identitas bangsa masih tegak bernafas.

Dari Sanggar Sederhana di Tepian Negeri: Perlawanan Kultural di Garis Depan

Di bawah atap seng yang berderik diterpa angin, Ibu Ina, seorang guru seni yang telah pensiun, memimpin latihan dengan penuh semangat. Dengan dana yang serba-pas-pasan dari tabungan pribadi, ia membangun sanggar ini sebagai benteng terakhir melawan arus globalisasi yang menerjang anak-anak muda perbatasan. ‘Kita hidup di ujung negeri, berhadapan langsung dengan dunia luar. Kalau kita tidak kenal diri sendiri, siapa lagi yang akan mengenali kita sebagai Indonesia?’ ujarnya, suaranya lantang menyaingi debur ombak. Kekhawatirannya nyata: gempuran konten digital asing membuat generasi muda Rote semakin menjauh dari akar budayanya. Namun, sanggar ini menjadi magnet perlahan. Setiap sore, setelah pulang sekolah, remaja-remaja yang awalnya malu kini dengan bangga mengenakan kain tenun dan meliukkan tubuh mereka, menghidupkan kembali cerita nenek moyang tentang laut, perahu, dan kearifan lokal Pulau Rote.

  • Lokasi Strategis: Sanggar berdiri tepat di garis pantai dengan pemandangan langsung ke perairan perbatasan.
  • Aktor Utama: Digerakkan oleh inisiatif warga (Ibu Ina) tanpa sokongan dana pemerintah yang memadai.
  • Kondisi Infrastruktur: Bangunan sederhana, peralatan musik tradisional yang dirawat turun-temurun, dan minim fasilitas latihan.
  • Partisipasi: Diikuti oleh remaja usia sekolah yang menunjukkan kebanggaan baru terhadap identitas budaya mereka.

Pentas di Panggung Perbatasan: Seni dan Kedaulatan yang Menyatu

Pentas mereka sering digelar di lapangan terbuka, dengan gulungan ombak Laut Sawu dan langit senja sebagai backdrop alamiah yang memukau. Saat tubuh-tubuh muda itu menari dengan gemulai dan gagah, panorama perbatasan pun hidup: di sebelah kiri, perahu-perahu nelayan melintas membawa hasil tangkapan; di kejauhan sebelah kanan, siluet kapal patroli TNI AL tampak berlayar rutin, menjaga batas kedaulatan negara. Dua pemandangan itu—seni budaya dan penjagaan teritorial—menyatu dalam satu bingkai, menggambarkan sepenuhnya makna membangun Indonesia dari garis depan. Atas dedikasi itu, grup tari ini kini kerap diundang untuk memeriahkan acara penyambutan tamu di kantor camat maupun upacara hari besar nasional, menjadi wajah budaya Indonesia di bibir perbatasan.

Bagi Markus (17), salah satu penari, melestarikan Tari Leke adalah bentuk pengabdiannya yang paling mungkin. ‘Kami tidak memegang senjata atau berpatroli di laut. Tapi dengan menari, kami menunjukkan kepada siapa pun yang melihat, bahwa di sini, di Rote, ada Indonesia yang kaya dan berbudaya. Ini cara kami menjaga perbatasan,’ katanya dengan mata berbinar. Semangat serupa tergambar di wajah setiap remaja di sanggar itu. Mereka paham, di tanah yang kerap dianggap ‘terpencil’ ini, mereka justru berada di garda terdepan dalam mempertahankan identitas nasional melalui seni dan budaya.

Di Pulau Rote, di mana hamparan laut menjadi pemisah sekaligus penghubung dengan dunia, dentuman gendang dan gerak tari adalah denyut nadi yang menegaskan keberlanjutan. Setiap alunan sasando yang mengudara adalah pengingat bahwa kedaulatan bukan hanya soal patok batas dan kekuatan militer, tetapi juga tentang ketahanan budaya dan harga diri sebagai bangsa. Ketika anak-anak muda perbatasan dengan bangga mengenakan tenun dan menarikan kisah leluhur, mereka sedang menancapkan bendera identitas Indonesia di titik paling selatan Nusantara. Mereka adalah bukti nyata bahwa di ujung negeri, di tengah terpaan angin laut dan terik matahari, jiwa kebangsaan justru tumbuh subur, dirawat oleh generasi yang sadar akan akar dan tanggung jawabnya. Melihat mereka, kita diingatkan: menjaga Indonesia bisa dimulai dari sebuah sanggar sederhana, dengan semangat sebesar samudra.

pelestarian budaya tradisional identitas nasional perbatasan negara
Tokoh: Ibu Ina
Organisasi: TNI AL
Lokasi: Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, Australia

Artikel terkait