Asap sate mengepul, bara arang membara, dan tawar-menawar dalam bahasa Indonesia serta Tok Pisin mengalun riuh. Selamat datang di denyut nadi ekonomi mikro di ujung timur Nusantara. Hanya beberapa ratus meter dari patok perbatasan dengan Papua Nugini, Pasar Skouw di Distrik Muara Tami, Jayapura, Papua, hidup dengan segala keriuhan dan warnanya. Aroma rempah, kain-kain cerah, dan barang elektronik bekas memenuhi lapak berjejal. Namun, di balik semangat dagang yang menggelora, lensa kami menangkap realitas lain yang tak kalah kuat: labirin kabel menjalar liar dan cahaya lampu neon yang redup dan berkedip, sebuah gambaran nyata dari infrastruktur listrik di wilayah perbatasan yang masih ‘hidup segan, mati tak mau’.
Potret Riil di Balik Keriuhan: Jaringan Listrik dan Suara yang Tersembunyi
Ketika mentari mulai panas, suasana pasar tak hanya diisi tawar-menawar. Dengungan keras dan aroma solar dari mesin genset tua mulai mendominasi. ‘Kalau mau listrik negeri stabil, ya tunggu malam. Siang begini, terpaksa pakai genset yang bising ini,’ ujar Mama Yosephina, pedagang sayur, dengan suara yang mewakili pergulatan harian ratusan rekan seprofesinya di Pasar Skouw. Di gang-gang sempit, kondisi infrastruktur terungkap dalam rincian yang gamblang:
- Jaringan kabel listrik menjalar tak teratur bagai laba-laba putus asa dari satu kios ke kios lain, membentuk sistem improvisasi yang rawan.
- Cahaya lampu neon di banyak lapak redup dan terus berkedip, pertanda tegangan yang tak pernah stabil.
- Pemandangan teknis PLN berjibaku di sekitar tiang, berusaha menstabilkan sistem yang sudah ‘overload’ akibat lonjakan permintaan.
‘Kapasitas transformer tidak cukup. Tapi permintaan terus naik seiring ramainya pasar. Butuh penambahan gardu baru,’ ujar seorang petugas dengan wajah berlinang keringat. Di sini, listrik bukan sekadar fasilitas, melainkan cermin dari pusat ekonomi vital yang masih bertumpu pada infrastruktur yang menegangkan.
Semangat yang Tak Pernah Padam di Tengah Kegelapan Perbatasan
Senja menyapukan cahaya jingga, namun keriuhan di Pasar Skouw tak serta merta redup. Lampu-lampu dari genset dan sedikit lampu jalan yang berfungsi menciptakan bayangan panjang, menyiluetkan para pekerja dari kedua sisi perbatasan yang membersihkan lapak sambil bersenda gurau. Bahasa Indonesia dan Tok Pisin bercampur, menjadi jembatan komunikasi yang cair dan hangat. ‘Listrik memang belum sempurna. Tapi semangat jualan kami tidak pernah padam,’ tegas Deni, pedagang asal Jawa yang telah lima tahun mengakar di tanah Papua ini. Suaranya penuh keyakinan, ‘Ini perbatasan, tapi kami saudara.’ Ucapannya adalah nyanyian kolektif ratusan pedagang yang terus memutar roda ekonomi mikro, meski ‘panggung’ mereka kerap diterpa kegelapan akibat pemadaman tak terduga.
Di Pasar Skouw, garis batas negara bukanlah dinding pemisah, melainkan sebuah jahitan yang menyatukan kehidupan. Setiap senyum, tawar-menawar, dan kerja keras di lapak sempit adalah bukti nyata semangat kebersamaan dan ketahanan warga perbatasan. Mereka adalah garda terdepan yang menjaga denyut ekonomi dan silaturahmi antarnegara, dengan segala keterbatasan yang ada. Kepedulian kita terhadap kestabilan listrik dan infrastruktur di sini bukan sekadar urusan teknis, melainkan bentuk nyata pengakuan dan dukungan bagi saudara-saudara kita yang teguh membangun negeri dari ujung paling timur. Di tanah Papua yang perkasa, di bawah langit perbatasan, kehidupan terus berdenyut dengan keras dan penuh warna—sebuah pesan nasionalisme yang kuat dari garis depan Indonesia.