Cahaya pagi menyapu perbukitan gersang Tasifeto Timur, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, mengungkap permukaan tanah yang retak-retak dan debu yang berterbangan. Di balik tebing kapur dan semak berduri yang menjadi penanda perbatasan langsung dengan Timor Leste, terdengar suara lembut tetesan air yang seperti menangis. Di sanalah We Tua, Mata Air Tua, bersembunyi—sebuah kolam kecil keruh yang menjadi jantung kehidupan bagi tiga desa di garis depan. Setiap hari, jerigen-jerigen kuning dan biru diangkut oleh wanita dan anak-anak melalui lereng curam, menciptakan siluet perjuangan di bawah langit biru tanpa awan yang menyala keras di atas tanah kering pecah-pecah.
Jeritan Mata Air yang Mulai Sekarat
Di bibir kolam yang kini hanya terisi separuh, Mama Lidia menadah air dengan gayung kaleng yang sudah berkarat. Air yang mengalir dari celah batu itu redup, tak lagi deras seperti masa lalu. "Sejak kecil saya sudah ambil air di sini," ujarnya, suara parau terdengar di tengah kesunyian bukit. "Dulu deras sekali, sekarang sudah seperti menangis." Sepanjang tepian, akar-akar pohon yang dulu menopang kehidupan tampak kering, terulur seperti tangan yang memohon hujan. Krisis air bersih di Belu bukan lagi ancaman samar, melainkan realitas pahit yang menganga setiap hari.
- Debit air yang menurun drastis akibat musim kemarau panjang dan hilangnya area resapan di hulu.
- Kolam We Tua, sumber utama air bersih, kini dalam kondisi keruh dan hanya setengah terisi.
- Alternatif air tangki berharga Rp500 ribu per 5.000 liter—sebuah angka yang tak terjangkau bagi mayoritas warga petani jagung.
Ketahanan Wilayah di Ujung Tanduk
Wajah Markus, tetua adat setempat, berkerut saat menatap tanah perbatasan yang kering di kejauhan. "Kalau ini habis, kami harus beli air tangki... Mana mampu kami yang cuma petani jagung," keluhnya, menyoroti dilema antara bertahan atau mengungsi. Tidak jauh dari situ, seorang petugas dari Dinas PUPR sedang mengukur debit air dengan alat sederhana, wajahnya mengernyit. "Ini adalah sumber kehidupan utama untuk tiga desa di sini," ujarnya dengan nada serius. "Jika ini hilang, bukan hanya soal haus, tapi bisa memicu perpindahan penduduk, dan itu masalah ketahanan wilayah di perbatasan." Upaya pemerintah daerah melalui pembangunan bak penampung dan pipanisasi sederhana terhambat oleh debit air yang terus menyusut, menunjukkan bahwa solusi infrastruktur tanpa perbaikan ekosistem hulu takkan pernah cukup.
Perjuangan harian ini bukan sekadar tentang mendapatkan air minum, melainkan tentang mempertahankan kedaulatan dari dalam. Setiap jerigen yang diangkat dari We Tua adalah bentuk ketahanan warga perbatasan, sebuah tekad untuk tetap tinggal dan menjaga setiap jengkal tanah Indonesia meski alam tak lagi bersahabat. Mereka adalah penjaga tapal batas yang sesungguhnya—yang melawan bukan dengan senjata, tapi dengan kesabaran dan ketekunan menghadapi teriknya krisis iklim. Tetesan terakhir dari mata air tua itu adalah simbol ketangguhan bangsa di garis depan, yang mengingatkan kita bahwa kemerdekaan juga berarti kemandirian atas sumber daya kehidupan di setiap sudut negeri.