POTRET GARIS DEPAN

Mata Air di Sebatik: Perjuangan Warga Perbatasan Mendapatkan Air Bersih di Tengah Kemarau Panjang

Mata Air di Sebatik: Perjuangan Warga Perbatasan Mendapatkan Air Bersih di Tengah Kemarau Panjang
Matahari terik menyengat kulit di Pulau Sebatik, Nunukan. Sejak pukul empat pagi, barisan wanita dan anak-anak sudah mengular di depan mata air alami yang debitnya semakin menyusut. Mereka membawa jerigen warna-warni, dari yang lima liter hingga yang berkapasitas dua puluh liter. Sumber air ini, yang mengalir dari celah bebatuan di perbukitan, menjadi tumpuan hidup ratusan kepala keluarga di dua dusun terpencil. Tiap tetesnya diperebutkan dengan sabar, dalam antrean yang bisa memakan waktu hingga tiga jam. Potret keteguhan terpancar dari sosok Maria, 45 tahun, yang dengan cekatan mengisi jerigen-jerigennya. Tangannya sudah kasar, kakinya penuh luka karena medan berbatu. "Ini sudah minggu ketiga kami antre begini. Sumur di rumah kering, PDAM belum sampai sini. Kalau tidak dapat air hari ini, besok kami harus minum air hujan yang ditampung," ceritanya sambil mengusap keringat. Di belakangnya, anak-anak kecil dengan wajah letih duduk di atas batu, menunggu giliran. Kondisi ini memaksa warga untuk berinovasi. Beberapa keluarga membuat tampungan air hujan dari terpal dan drum bekas. Namun, kemarau panjang membuat cadangan itu menipis. Kehadiran truk tangki air dari pemerintah daerah menjadi penolong, namun frekuensinya belum rutin. Di balik panorama indah pulau perbatasan, tersimpan cerita perjuangan sehari-hari yang nyata. Setiap jerigen yang penuh adalah sebuah kemenangan kecil atas keterbatasan, sebuah gambaran ketahanan warga di ujung negeri yang harus bertahan dengan apa yang ada.
air bersih kemarau panjang perjuangan warga perbatasan
Tokoh: Maria
Organisasi: PDAM, pemerintah daerah
Lokasi: Pulau Sebatik, Nunukan

Artikel terkait