INFRASTRUKTUR

Nelayan Pulau Rote Masih Andalkan Lampu Petromaks, Proyek Listrik Tenaga Surya Mandek Setengah Jalan

Nelayan Pulau Rote Masih Andalkan Lampu Petromaks, Proyek Listrik Tenaga Surya Mandek Setengah Jalan

Para nelayan di Desa Papela, Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, masih bergantung pada lampu petromaks untuk aktivitas malam hari karena proyek listrik tenaga surya yang mangkrak. Infrastruktur panel surya terbengkalai dalam kondisi rusak dan tidak terawat setelah uji coba singkat, meninggalkan harapan warga akan penerangan yang stabil dan beban ekonomi akibat ketergantungan pada minyak tanah. Potret ini mengingatkan kita akan pentingnya keberpihakan yang tuntas kepada warga di garis depan negeri.

Pesona senja di ujung selatan negeri masih menyisakan siluet nelayan Pulau Rote yang teguh, dengan kulit legam terbakar terik matahari garis khatulistiwa. Di dermaga kayu Desa Papela, titik paling depan yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia, udara lembab berpadu dengan aroma ikan segar dan asap minyak tanah dari petromaks yang setia menemani. Cahaya apinya yang berayun-ayun menerangi ketelitian tangan-tangan kasar yang membongkar tumpukan tongkol dan cakalang. Ini bukan romantisme masa lalu, melainkan potret riil kehidupan di wilayah terdepan Indonesia, di mana ritme pembangunan kerap tak selaras dengan denyut nadi garis depan.

Monumen Harapan yang Membisu di Pinggir Dermaga

Di balik keriangan aktivitas di dermaga, sebuah pemandangan getir berdiri bagai monumen harapan yang telah bisu. Deretan tiang besi setinggi tiga meter dengan panel-panel tenaga surya tegak bagai patung tak bernyawa, termangu di tepi laut. Kondisinya memilukan: sebagian panel kaca pecah seolah diterjang amarah alam atau kelalaian, sebagian lagi diselimuti debu tebal dan kotoran burung yang mengering. "Proyek listrik tenaga surya ini datang seperti angin lalu," ujar Marthen, nelayan senior dengan kerutan di wajahnya yang mengisahkan puluhan tahun melaut, sambil mengelap keringat dengan lengan baju lusuh.

  • Proyek tenaga surya di dermaga nelayan Papela mandek setelah pemasangan dan uji coba singkat dua malam.
  • Panel surya dalam kondisi rusak: pecah, berdebu, dan tidak terawat sama sekali.
  • Ketiadaan pendampingan dan pelatihan pascapembangunan membuat infrastruktur canggih berakhir sebagai besi tua mangkrak.
  • Harapan akan penerangan stabil untuk aktivitas ekonomi malam hari kembali sepenuhnya tergantung pada petromaks.

Biaya Kegelapan di Bawah Cahaya Zaman Dulu

Sementara para orang tua bekerja, anak-anak kecil berlarian di antara tumpukan jaring dan perahu, bermain kejar+kejaran dalam sinar lampu minyak yang tak stabil. Tawa mereka bersahutan dengan debur ombak Samudera Hindia, menciptakan kontras yang menyayat hati. Cahaya yang seharusnya menerangi buku pelajaran atau membantu para ibu menjahit jaring di malam hari, ternyata hanya cukup untuk sekadar melihat bayangan dan bermain. "Impian anak-anak saya bisa belajar dengan lampu yang terang dan tidak silau serta berasap seperti ini, masih jauh," ujar Maria, istri seorang nelayan, sambil menunjuk ke arah petromaks dengan tatapan lesu.

Ketergantungan pada petromaks bukan hanya soal keterbatasan kecerahan, namun juga beban ekonomi yang mencekik. Biaya untuk minyak tanah setiap bulan menjadi beban tambahan yang memberatkan pendapatan hasil tangkapan yang tak menentu dari laut lepas. Padahal, Pulau Rote memiliki potensi sinar matahari yang melimpah, yang seharusnya mampu mengubah cahaya mentari menjadi solusi mandiri dan berkelanjutan untuk listrik yang stabil.

Potret di Desa Papela ini adalah cerminan dari banyak titik lain di garis depan negeri, di mana janji pembangunan kerap berhenti di tengah jalan, meninggalkan infrastruktur mangkrak dan harapan yang tertunda. Di ujung selatan Indonesia ini, semangat para nelayan dan keluarganya tetap menyala, meski hanya diterangi cahaya petromaks yang tak andal. Mereka adalah penjaga terdepan kedaulatan maritim kita, yang setiap hari berhadapan dengan ganasnya samudera namun masih harus berjuang dengan kegelapan di daratan. Kepedulian kita terhadap nasib mereka di garis perbatasan bukan hanya tentang penerangan, tetapi tentang penghormatan kepada para penjaga ujung negeri yang setia menjaga nyala api harapan Indonesia, sekalipun dari dalam gelap.

infrastruktur energi terbarukan listrik tenaga surya kondisi nelayan pembangunan wilayah terluar
Tokoh: Marthen
Lokasi: Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, Indonesia, Desa Papela, laut Sawu

Artikel terkait