Pelajaran di Ujung Negeri: Guru Keliling Mengajar Anak-Anak Perbatasan Papua Nugini
03 Juli 2026
7 views
Sebuah sepeda motor tua dengan ban yang sudah mulai gundul melintasi jalan tanah berbatu menuju sebuah honai (rumah tradisional Papua) di perbatasan. Di jok belakang, terikat erat sebuah tas berisi buku tulis, papan tulis lipat, dan beberapa pensil warna. Itulah perlengkapan mengajar Bu Sari, seorang guru pegawai negeri yang rela menjadi guru keliling untuk menjangkau anak-anak di kampung terpencil.
Sesampainya di honai, sepuluh anak dengan seragam sederhana—ada yang hanya baju kaos—sudah duduk lesehan di atas tikar. Mata mereka berbinar menyambut kedatangan Bu Sari. Di depan honai dengan pemandangan pegunungan hijau sebagai latarnya, Bu Sari membuka papan tulisnya. Dia mulai menuliskan huruf dan angka dengan kapur. Suaranya yang lembut namun jelas menggema, bersaing dengan kicauan burung di hutan sekitar.
Anak-anak itu meniru dengan serius, jari-jari mungil mereka mencengkeram pensil erat. Beberapa dari mereka harus berjalan kaki hingga dua jam dari rumahnya yang lebih terpencil untuk bisa ikut belajar. Tidak ada jaringan internet, tidak ada komputer. Hanya ada semangat belajar dan dedikasi seorang guru yang percaya bahwa masa depan bangsa juga ditentukan dari bagaimana anak-anak di ujung perbatasan ini mengenal huruf dan angka. Di sini, di bawah langit Papua yang luas, pelajaran berhitung dan membaca adalah modal mereka untuk suatu hari nanti membangun kampung halamannya dan memahami arti menjadi warga negara Indonesia yang tinggal di garis terdepan.