SUARA PERBATASAN

Pemekaran Distrik Koroway Boven Digoel: Masyarakat Desak Pemerintah Akhiri Ketertinggalan

Pemekaran Distrik Koroway Boven Digoel: Masyarakat Desak Pemerintah Akhiri Ketertinggalan

Masyarakat adat Koroway di pedalaman Boven Digoel, Papua, mendesak pembentukan distrik definitif untuk mengakhiri puluhan tahun keterisolasian yang menghambat akses terhadap pelayanan dasar seperti pendidikan dan kesehatan. Tanpa wilayah administratif sendiri, mereka kesulitan mengejar ketertinggalan dari distrik lain yang telah lebih maju. Perjuangan ini menjadi ujian nyata bagi komitmen pemerintah dalam mewujudkan keadilan dan pemerataan pembangunan hingga ke wilayah perbatasan paling terpencil.

Kabut pagi masih menggantung di antara kanopi raksasa hutan belantara Papua Selatan ketika suara gema ketertinggalan kembali menyayat hati di Boven Digoel. Dari kedalaman rimba yang diselingi aliran sungai liar, aroma tanah basah dan bunyi kicau burung Cendrawasih seolah menjadi saksi bisu puluhan tahun keterisolasian yang membelenggu Suku Koroway. Di sini, di ujung perbatasan negeri, pepohonan tinggi dan jeram ganas bukan sekadar pemandangan, melainkan tembok alamiah yang memisahkan ribuan jiwa dari denyut pembangunan. Sorot mata penuh tanya dari anak-anak di Kampung Waliburu memantulkan realitas pedih: Papua, dengan segala kekayaannya, masih menyimpan kantong-kantong ketimpangan yang menuntut keadilan segera.

Jeritan Dari Balik Rimbun: Distrik Untuk Menembus Isolasi

Husain Gainggatu, Sekretaris Jenderal perkumpulan masyarakat adat Koroway, berdiri tegap di antara rumah panggung sederhana, napasnya berpadu dengan udara lembab pedalaman. Tangannya menunjuk ke arah hamparan hutan yang menjadi sekaligus rumah dan belenggu bagi bangsanya. "Tanpa pemekaran, sangat sulit bagi kami mengejar ketertinggalan," tegasnya, kata-katanya menembus gemericik air sungai Digoel di kejauhan. Aspirasi pembentukan distrik definitif bagi Suku Koroway di Boven Digoel adalah tuntutan hidup, bukan sekadar wacana administratif. Dari 20 distrik yang ada, sebagian besar dibentuk berdasarkan basis suku, namun ironisnya, satu suku besar seperti Koroway justru terombang-ambing tanpa wilayah administratif sendiri. Ketimpangan ini memunculkan gambaran nyata:

  • Anak-anak di Kampung Seninburu, yang diusulkan menjadi pusat pemekaran, harus menempuh jalur berbahaya untuk sekadar mengecap pendidikan dasar.
  • Ibu-ibu hamil di Kampung Waliburu mempertaruhkan nyawa karena akses ke puskesmas terdekat terhalangi sungai yang kerap meluap.
  • Listrik hanyalah mimpi di malam hari, sementara gelombang radio dari kota kabupaten hanya sampai sebagai desis tak jelas.

Wajah-wajah mereka, terbakar matahari dan penuh keteguhan, menjadi potret nyata betapa Pemekaran Wilayah bukan lagi soal politik, melainkan urusan napas dan masa depan generasi di garis depan Indonesia.

Pelayanan Dasar yang Hanya Sampai di Batas Sungai

Melintasi jeram Sungai Brazza dengan perahu lesung kayu, kita menyaksikan bagaimana pembangunan seolah berhenti di tepian. Layanan pendidikan dan kesehatan, dua pilar utama, menjadi barang mewah di wilayah ini. Guru-guru enggan ditempatkan karena ketiadaan infrastruktur dan rasa terisolasi, sementara tenaga kesehatan hanya datang sesekali dengan persediaan obat terbatas. "Kami mendesak pemerintah untuk tidak lagi menjadikan hutan dan sungai sebagai alasan keterlambatan," seru Husain, suaranya penuh keyakinan. Di usianya yang tak lagi muda, ia telah menyaksikan bagaimana janji-janji pembangunan kerap menguap sebelum mencapai kampungnya. Kondisi infrastruktur yang memprihatinkan menjadi penghalang utama:

  • Tidak ada jalan darat yang menghubungkan kampung-kampung Koroway dengan distrik lain di Boven Digoel.
  • Satu-satunya akses transportasi adalah melalui sungai dengan risiko tinggi, terutama di musim hujan.
  • Komunikasi dengan dunia luar sangat minim, membuat informasi tentang program pemerintah sering tak sampai atau terlambat.

Keterisolasian yang berlarut-larut ini telah menciptakan lingkaran setan ketertinggalan, di mana generasi muda Koroway kesulitan bersaing dengan saudara-saudara sebangsanya di wilayah yang lebih maju.

Di balik semua tantangan, semangat untuk maju tetap membara di hati masyarakat Koroway. Mereka bukan meminta belas kasihan, melainkan keadilan dan kesetaraan sebagai warga negara Indonesia. Aspirasi pemekaran distrik menjadi simbol perjuangan mereka untuk keluar dari kegelapan isolasi menuju cahaya pembangunan. Di sini, di tanah Papua yang subur, di kabupaten Boven Digoel yang kaya, suara mereka harus didengar. Keberpihakan negara diukur bukan dari kata-kata di ruang rapat, melainkan dari seberapa cepat akses jalan dibuka melalui hutan belantara, listrik dinyalakan menerangi malam-malam panjang, dan guru-guru berdedikasi dikirim untuk mengisi kelas-kelas darurat di tepi hutan. Sebagai bangsa yang besar, Indonesia harus membuktikan bahwa tak ada satupun sudut negeri yang terabaikan, bahwa setiap anak di perbatasan berhak atas masa depan cerah yang sama. Perjuangan Suku Koroway adalah cerminan semangat nasionalisme yang sesungguhnya: tetap mencintai tanah air meski terasa jauh dari perhatian. Kini, giliran kita mendengar jeritan hati dari balik rimbun dan menjawabnya dengan aksi nyata.

Artikel terkait