Pagi di Distrik Batom, Kabupaten Pegunungan Bintang, bukanlah perpisahan hangat dengan keluarga. Udara dingin pegunungan menusuk kulit, namun yang pertama menyapa mata adalah kontrasnya pemandangan: di sisi barat garis imajiner perbatasan Indonesia–Papua Niugini, rumah-rumah beratap seng masih gelap gulita; di sisi timur, titik-titik lampu dari negeri tetangga sudah berkelap-kelip sejak subuh. Di sini, di jantung Jayawijaya, listrik adalah bahasa langka yang belum sepenuhnya dipahami oleh kemajuan. Warga setempat, mayoritas suku Ngalum, masih menggantungkan hidup pada lampu minyak tanah dan generator yang hanya bernyanyi beberapa jam saat malam tiba. Anak-anak berjalan kaki berjam-jam menuju sekolah, melewati jalur setapak berbatu dan lembah yang gelap, tanpa penerangan sama sekali. Seonggok papan nama besar bertuliskan 'PLBN Jayawijaya' berdiri megah di kejauhan, dengan gapura modern yang seolah menyambut siapa pun yang melintas. Namun, di balik simbol kebanggaan itu, kehidupan warga masih jauh dari kata maju. Rumah-rumah berdempetan, beberapa berlantai tanah, dan sumber air bersih kadang harus diperebutkan dengan hewan ternak. Realitas di garis depan ini adalah tangisan yang tak terdengar oleh pusat pemerintahan.
Senja yang Tak Pernah Terang: Potret Kegelapan di Garis Depan
Yohana, seorang ibu rumah tangga berusia 34 tahun, duduk di depan rumahnya yang hanya berjarak 500 meter dari garis perbatasan. Dengan lirih, ia bercerita kepada tim Lensa-Teritorial. "Kami merasa sendirian di sini. Lihat di seberang, mereka sudah terang benderang sejak malam. Kami hanya bisa berdoa, menunggu listrik masuk seperti yang pernah dijanjikan." Ucapan Yohana bukan sekadar keluhan; ia adalah suara dari generasi yang lelah menanti pembangunan. Badan Perbatasan Nasional (BPN) memang berjanji akan membangun PLTS komunal tahun depan. Namun, kata 'tahun depan' sudah menjadi hantu yang menghantui desa ini — janji yang tak kunjung terwujud sejak dua dekade lalu. Warga setempat hanya bisa melihat dari kejauhan, saat generator milik gereja dan kantor distrik menyala, memberi sedikit cahaya dalam kegelapan.
Infrastruktur yang Tertatih: Fakta Lapangan di Perbatasan Jayawijaya
Kondisi riil di garis depan ini memperlihatkan betapa jauhnya pembangunan dari harapan warga. Berikut rincian kondisi infrastruktur yang terabaikan:
- Listrik: Hanya generator milik gereja dan distrik yang menyala beberapa jam saat malam. Warga mayoritas menggunakan lampu minyak tanah yang mahal dan berisiko kebakaran.
- Penerangan umum: Tidak ada sama sekali. Jalan setapak utama menuju sekolah dan pasar gelap gulita setelah pukul 18.00. Anak-anak sering terjatuh karena tak bisa melihat lubang atau batu.
- Akses transportasi: Jalan utama ke PLBN Jayawijaya masih berupa tanah merah yang justru licin di hujan dan berdebu di kemarau. Anak-anak berjalan kaki berjam-jam melewati jalur setapak berbatu dan lembah yang gelap tanpa penerangan.
Realitas di perbatasan Jayawijaya adalah cermin dari ketimpangan pembangunan di ujung negeri. Di balik megahnya PLBN yang menjadi simbol kedaulatan, warga seperti Yohana masih harus berjuang melawan gelap yang tak kunjung sirna. Mereka adalah penjaga garis depan yang setia, namun sering dilupakan oleh janji-janji yang tak pernah sampai. Di sini, di ujung Indonesia, harapan adalah lentera kecil yang harus terus dijaga, meski hanya dari minyak tanah dan doa. Ketika malam turun di Batom, satu hal yang pasti: cinta tanah air tidak pernah padam, meski listrik belum juga menyala.