INFRASTRUKTUR

Prihatin Kondisi di Perbatasan, Ketua DPRD Mahulu Minta Pemprov Kaltim dan Pusat Segera Bangun Jalan Darat

Prihatin Kondisi di Perbatasan, Ketua DPRD Mahulu Minta Pemprov Kaltim dan Pusat Segera Bangun Jalan Darat

Di Mahakam Ulu, musim kemarau mengubah Sungai Mahakam menjadi jalur transportasi yang sulit dilalui, memicu akses terisolasi yang parah bagi warga perbatasan. Ketua DPRD Mahulu, Devung Paran, mendesak pemerintah pusat dan provinsi untuk segera membangun jalan darat guna memutus ketergantungan pada transportasi sungai yang tidak menentu. Akibatnya, harga kebutuhan pokok melambung drastis, dengan bensin mencapai Rp35.000 per liter dan beras 25 kg hingga Rp800.000, menghimpit kehidupan warga di garis depan yang sudah lama menanti kehadiran negara.

Debit Sungai Mahakam yang menyusut di musim kemarau menciptakan pemandangan dramatis di perbatasan Kalimantan. Speedboat yang membawa Ketua DPRD Mahulu, Devung Paran, terpaksa berhenti beberapa kali di tengah sungai. Ia dan rombongan harus turun, mendorong perahu, berjalan di tepian sungai yang dangkal, lalu naik kembali—ritual yang diulang berkali-kali dalam perjalanan menuju Kecamatan Long Apari. Air kecokelatan sungai hanya mencapai lutut, batu-batu besar terlihat jelas di dasar sungai, dan perahu yang biasanya melaju kini tersendat-sendat. Pengalaman langsung ini memaksa Devung menyuarakan kembali desakan yang sudah lama menggema di wilayah Mahakam Ulu: pembangunan jalan darat menuju kawasan perbatasan. Di ujung negeri, warga di garis depan bertahan di tengah keterbatasan akses, di mana transportasi sungai menjadi satu-satunya jalur kehidupan namun sering kali tersandera oleh musim.

Potret Garis Depan: Sandera Musim Kemarau di Hulu Mahakam

Di musim kemarau, Sungai Mahakam berubah wajah. Arus deras perlahan berubah menjadi aliran tenang, lalu menyusut drastis. Air sungai yang biasanya setinggi dada kini hanya selutut, memperlihatkan hamparan batu besar di dasar sungai. Perahu bermesin tempel yang menjadi urat nadi transportasi sungai bagi warga kini terpaksa merangkak di atas kerikil. Ketua DPRD Mahakam Ulu, Devung Paran, merasakan langsung pahitnya perjalanan ini saat meninjau Kecamatan Long Apari. "Ini tidak seperti biasanya. Kami harus turun dan mendorong perahu berkali-kali," katanya dengan nafas tersengal, seragamnya basah kuyup oleh percikan air. Di balik layar, kondisi ini menggambarkan realitas pahit warga perbatasan: akses terisolasi yang mengakar. Tanpa jalan darat, setiap musim kemarau menjadi masa-masa sulit yang menguji ketahanan hidup, di mana kebutuhan pokok menjadi barang mewah dan mobilitas terhenti total.

Fakta Lapangan: Harga Melambung, Hidup Terhimpit

Menurut Devung, situasi ini bukan sekadar soal perjalanan berat, tetapi juga soal kelangsungan hidup. Tanpa jalan darat, warga Mahakam Ulu bergantung penuh pada transportasi sungai. Ketika sungai surut, distribusi barang terhenti total. Akibatnya, harga kebutuhan pokok meroket tak terjangkau. Berikut rincian harga di lapangan:

  • Bensin: Rp35.000 per liter — dua kali lipat harga normal, membuat ongkos perahu dan biaya hidup melambung.
  • Beras 25 kg: Rp700.000 hingga Rp800.000 — warga harus memilih antara membeli dengan harga selangit atau kelaparan.
  • Gula, minyak, dan sembako lain: Harganya membumbung tinggi karena biaya angkut perahu yang mahal dan risiko perjalanan di sungai yang menyusut.

“Masyarakat di sini sangat bergantung pada sungai. Jika sungai surut, tidak ada barang masuk. Mereka terpaksa membayar harga selangit atau tidak kebagian sama sekali,” jelas Devung dengan nada prihatin. Ia menambahkan, tanpa intervensi pemerintah, isolasi ini akan terus berulang setiap musim kemarau tiba. Desakan dari hulu pun kembali menggema: pembangunan jalan darat bukan sekadar mimpi, melainkan kebutuhan mendesak untuk memutus rantai isolasi dan ketergantungan pada sungai yang tak menentu.

Di ujung negeri, di hulu Sungai Mahakam, warga perbatasan bertahan di tengah keterbatasan. Mereka adalah garda terdepan yang menjaga kedaulatan Indonesia, namun akses kehidupan mereka tersandera oleh musim. Sudah saatnya negara hadir lebih nyata—bukan sekadar janji—untuk membangun jalan darat yang menghubungkan titik-titik terisolasi di Mahakam Ulu, agar warga garis depan tak lagi menjadi sandera musim kemarau. Kepedulian kita semua adalah amunisi untuk mengubah mimpi mereka menjadi kenyataan, menjaga semangat nasionalisme dari perbatasan tetap membara.

pembangunan jalan darat perbatasan transportasi sungai kesenjangan wilayah
Tokoh: Devung Paran
Organisasi: DPRD Mahulu, Pemprov Kaltim
Lokasi: Mahakam Ulu, Kalimantan, Sungai Mahakam, Kecamatan Long Apari, Long Bagun, Long Pahangai

Artikel terkait