Dari balik celah seng berkarat yang menjadi atap, cahaya pagi menyusup masuk ke ruang kelas SD di Pulau Sebatik, menyoroti debu yang beterbangan dan dinding beton yang retak-retak. Bau asin laut bercampur udara lembab tropis masuk lewat jendela tanpa kaca, sementara debur ombak Selat Sebatik terdengar jelas hanya seratus meter dari bangunan sekolah. Di sinilah Bu Rina, seorang guru dengan seragam sederhana, berdiri di depan papan tulis yang lapuk, cat hitamnya mengelupas seperti kulit ular. Tanpa listrik, tanpa kipas angin, tanpa proyektor. Hanya satu buku paket pelajaran yang sudah lusuh dipegang erat, siap dibagi untuk 25 pasang mata yang lapar ilmu di ujung negeri.
Belajar dalam Bayangan Garis Perbatasan
Suara Bu Rina harus mengalahkan riak ombak dan desau angin laut ketika ia membuka buku pelajaran itu. "Anak-anak, lihat gambar ini. Ini lambang Garuda Pancasila," ucapnya dengan suara yang keras namun lembut, menunjuk gambar yang sudah samar-samar di buku yang dipegang murid di barisan depan. Di kelas yang hanya diterangi cahaya alami itu, seragam merah putih para murid terlihat pudar, usang oleh terik matahari dan percikan air laut yang setiap hari menyapa pulau perbatasan ini. Kondisi fisik sekolah di Sebatik ini menggambarkan realitas yang sering tak terlihat dari pusat:
- Ruang kelas tanpa listrik, bergantung pada cahaya matahari dari jam 7 pagi hingga 2 siang
- Satu-satunya buku paket pelajaran untuk seluruh kelas, dipinjamkan bergiliran
- Atap seng berkarat yang bocor ketika hujan datang
- Papan tulis yang catnya mengelupas hingga sulit dibaca tulisan kapurnya
- Jendela tanpa kaca yang membuat angin laut bebas masuk sekaligus menerpa meja belajar
Lintasan Sawit dan Semangat yang Tak Padam
Setiap pagi sebelum matahari terbit, jejak-jejak kecil sudah mulai bermunculan di jalan tanah merah menuju sekolah. Beberapa murid harus berjalan kaki melintasi perkebunan sawit, melewati jalan setapak yang basah oleh embun pagi, dengan tas kain sederhana berisi buku dan pensil. Orang tua mereka bekerja sebagai nelayan yang mengarungi Selat Sebatik atau buruh kebun di perkebunan yang konturnya sama dengan yang ada di sisi Malaysia. Di teras sekolah seusai pelajaran, Bu Rina sering duduk mendengarkan cerita mereka: "Yang penting anak-anak bisa membaca, Bu. Bisa menulis namanya sendiri dalam bahasa Indonesia. Bisa tahu mereka dari mana," ujar seorang ayah yang tangannya masih bercucuran air laut. Aspirasi mereka sederhana namun mendalam—pendidikan sebagai jembatan mengenal tanah air lebih dari sekadar garis di peta, lebih dari sekadar batas yang membagi pulau. Sekolah ini, meski bangunannya sederhana dan perlengkapannya minim, menjadi benteng terakhir mempertahankan identitas keindonesiaan di wilayah di mana pengaruh budaya tetangga begitu dekat secara fisik.
Ketika bel pulang berbunyi—sebuah besi pipa yang dipukul dengan batu oleh penjaga sekolah—suara nyaringnya menggema di antara pohon kelapa dan seng-seng atap. Anak-anak berlarian keluar kelas dengan wajah ceria, meski beberapa masih memandangi buku pelajaran yang harus mereka kembalikan dengan berat hati. Bu Rina membersihkan papan tulis perlahan, menghapus setiap tulisan dengan kain lap yang sudah compang-camping. Buku pelajaran yang satu-satunya itu ia simpan dengan hati-hati di laci kayu yang terkunci, disiapkan untuk esok hari. Di sudut kelas, bendera merah putih yang sudah kusam masih berkibar perlahan diterpa angin laut yang membawa aroma garam. Di sini, di Pulau Sebatik yang hanya terpisah beberapa ratus meter dari Malaysia, setiap huruf yang diajarkan, setiap angka yang ditulis, setiap lagu kebangsaan yang dinyanyikan, menjadi bentuk nasionalisme yang paling nyata dan mengharukan. Mereka belajar bukan untuk menjadi yang terbaik secara akademis, tetapi untuk tetap menjadi Indonesia di tanah yang fisiknya menyatu dengan tetangga.
Pulau Sebatik mungkin hanya sebuah titik kecil di peta perbatasan Indonesia-Malaysia, namun di sanalah jantung nasionalisme berdetak dalam setiap pelajaran tanpa listrik, dalam setiap buku yang dibagi-bagi, dalam setiap langkah anak-anak yang menyeberangi kebun sawit untuk sampai ke sekolah. Bu Rina dan guru-guru lainnya di garis depan adalah penjaga nyala itu—penjaga api pengetahuan yang meski kecil, tak pernah padam oleh keterbatasan infrastruktur atau jarak dari pusat pemerintahan. Mereka mengajarkan bahwa cinta tanah air tak diukur dari kemewahan fasilitas, tetapi dari keteguhan mempertahankan identitas di tengah segala keterbatasan. Setiap anak yang bisa membaca tulisan "Indonesia" di papan tulis yang lapuk itu adalah kemenangan kecil yang menggemakan semangat Bhinneka Tunggal Ika sampai ke ujung terdepan negeri.