SUARA PERBATASAN

Suara Perbatasan: Nelayan di Nunukan Keluhkan Pasokan Solar Langka dan Harga Mahal

Suara Perbatasan: Nelayan di Nunukan Keluhkan Pasokan Solar Langka dan Harga Mahal

Nelayan di Pelabuhan Tanjung Harapan, Nunukan, Kalimantan Utara, menghadapi kelangkaan solar dengan harga mencapai Rp 8.500 per liter, jauh di atas HET. Pasokan energi yang terbatas memaksa mereka melaut hanya di dekat pantai dengan hasil tangkapan sedikit, sementara pemerintah berjanji mengirim solar tambahan pekan depan. Kondisi ini mengancam mata pencaharian dan semangat nasionalisme warga di perbatasan yang berhadapan langsung dengan Malaysia.

Layar perahu nelayan di Pelabuhan Tanjung Harapan, Nunukan, Kalimantan Utara, terkulai lesu bukan karena angin tak bertiup, tapi karena mesin tak bisa dihidupkan. Di ujung dermaga, di bawah langit kelabu yang membentang hingga ke perbatasan Malaysia, puluhan perahu parkir rapat tanpa aktivitas melaut. Udara pagi itu terasa berat, bukan hanya karena kelembapan, tetapi juga oleh keheningan yang mencengkam. Pak Baco, nelayan berusia 55 tahun, duduk di bibir dermaga, sesekali menunjuk ke arah tangki solar di perahunya yang kosong. "Solar ini langka sudah seminggu. Kalau beli dari pengecer, harganya bisa Rp 10.000 per liter. Kami terpaksa menjaring di dekat pantai, hasilnya sedikit," keluhnya. Di seberang, pabrik minyak kelapa sawit Malaysia terlihat jelas dengan cerobong asapnya yang mengepul, seolah mengejek keterbatasan energi di wilayah perbatasan ini.

Kelangkaan Solar di Pelabuhan Tanjung Harapan

Harga solar di stasiun pengisian bahan bakar perbatasan Nunukan mencapai Rp 8.500 per liter, jauh melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah. Kondisi ini memaksa nelayan untuk mengurangi jadwal melaut atau bahkan berhenti sementara. Berdasarkan pantauan di lapangan, berikut dampak kelangkaan energi ini terhadap kehidupan nelayan di perbatasan:

  • Pasokan solar subsidi dari pemerintah hanya tersedia di stasiun pengisian tertentu, namun seringkali habis dalam hitungan jam.
  • Pengecer menjual solar dengan harga Rp 10.000 per liter, membebani biaya operasional perahu yang biasanya membutuhkan 20-30 liter per trip.
  • Nelayan seperti Pak Baco hanya mampu menjaring di zona pesisir, menangkap ikan lebih sedikit dan berukuran lebih kecil.
  • Aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Harapan menurun drastis, mempengaruhi pendapatan pedagang ikan dan keluarga nelayan.

Pemerintah Kabupaten Nunukan berjanji akan mengirim pasokan solar subsidi tambahan pekan depan, namun warga perbatasan harus bertahan dengan persediaan yang terus menipis. Di tengah keterbatasan, semangat para nelayan tetap terjaga. "Kami ini anak perbatasan, biasa berjuang. Tapi kalau energi saja tidak ada, bagaimana kami bisa menghidupi keluarga?" ujar Pak Baco dengan nada getir.

Suara Nelayan di Garis Depan

Di sepanjang pesisir Nunukan, perbatasan darat dengan Malaysia di PLBN Nunukan tetap padat dengan aktivitas bongkar muat barang, namun kehidupan nelayan di garis depan terus tertekan oleh ketidakpastian pasokan energi. Kondisi geografis yang berhadapan langsung dengan negara tetangga membuat harga solar di Nunukan lebih mahal dibandingkan di daerah lain di Kalimantan Utara. Para nelayan kerap melihat kapal-kapal Malaysia melintas dengan bebas, sementara mereka harus berjuang hanya untuk mendapatkan solar subsidi. "Kami iri, tapi ini negeri kami. Kami harus bertahan," tambah Pak Baco sambil menatap ke arah perbatasan.

Kelangkaan energi ini bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga soal kedaulatan. Nelayan perbatasan adalah garda terdepan yang menjaga wilayah laut Indonesia, namun seringkali terlupakan. Mereka membutuhkan perhatian serius dari pemerintah pusat untuk memastikan pasokan solar subsidi yang stabil dan terjangkau. Tanpa energi, perahu-perahu itu hanya akan menjadi pajangan di dermaga, dan kehidupan di perbatasan Nunukan akan semakin terpuruk.

Di ujung negeri, di mana bendera merah putih berkibar di antara hamparan laut dan langit, para nelayan Nunukan tetap berjuang. Mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang setiap hari mempertaruhkan nyawa untuk mencari nafkah. Namun, tanpa dukungan energi yang memadai, nasib mereka tidak akan berubah. Sudah saatnya kita semua peduli — bukan hanya pada angka statistik, tetapi pada denyut nadi kehidupan di garis depan perbatasan Indonesia. Karena di sana, di Pelabuhan Tanjung Harapan, harapan masih terus berlayar meski solar langka dan harga mahal.

Pasokan Solar Langka dan Harga Mahal
Tokoh: Pak Baco
Organisasi: Pemerintah Kabupaten Nunukan, Pemerintah
Lokasi: Nunukan, Pelabuhan Tanjung Harapan, Kalimantan Utara, Malaysia, PLBN Nunukan

Artikel terkait