Di Desa Bonti, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, areal kebun karet membentang seluas puluhan hektar. Namun, bukan getah karet yang mengalir deras di pagi hari, melainkan keringat para petani yang lesu. Udara pagi yang biasanya dipenuhi aroma lateks kini terasa hambar, ditemani oleh dedaunan karet yang mulai mengering. Di kejauhan, terlihat asap mengepul dari cerobong pabrik pengolahan karet milik Malaysia, sebuah kontras yang menyayat hati. Jalur tanah merah di perbatasan masih basah oleh embun, meninggalkan jejak ban truk yang terus melintas membawa muatan karet lump—memasuki Indonesia tanpa hambatan.
Potret Petani di Ujung Negeri: Harga Karet Anjlok, Impor Banjiri Pasar Lokal
Pak Darmo, petani karet yang sudah menggarap lahan selama 20 tahun, berdiri di tengah kebunnya dengan tangan kasar yang biasa menyadap. Ia menunjuk ke arah timur, ke perbatasan tak resmi yang hanya berjarak beberapa kilometer. "Kami tidak bisa bersaing. Malaysia punya pabrik dan moda transportasi yang lebih murah. Kami petani di sini sangat dirugikan," keluhnya dengan suara parau. Harga karet di tingkat petani kini anjlok menjadi Rp 4.500 per kilogram, turun drastis dari Rp 7.000 bulan lalu. Penyebabnya adalah melimpahnya karet impor asal Malaysia yang masuk melalui jalur perbatasan Entikong. Berikut adalah kondisi riil yang diamati di lapangan:
- Harga tidak stabil: Petani hanya menerima Rp 4.500/kg, sementara biaya produksi seperti pupuk dan transportasi terus naik.
- Infrastruktur minim: Tidak ada pabrik pengolahan lokal di sekitar Sanggau, sehingga petani harus menjual getah mentah dengan harga murah.
- Impor ilegal marak: Truk-truk bermuatan karet lump terus melintas dari Malaysia melalui pos perbatasan tidak resmi, membanjiri pasar lokal.
- Petani beralih: Banyak petani mulai meninggalkan kebun karet dan beralih ke tanaman lain seperti sawit atau sayuran, meskipun hasilnya belum tentu lebih baik.
Respons Pemerintah: Patroli Diperketat, Nasib Petani di Tangan Kebijakan
Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kalimantan Barat mengakui adanya lonjakan impor ilegal melalui pintu perbatasan tidak resmi. "Kami akan mengintensifkan patroli bersama TNI dan Bea Cukai untuk menekan masuknya karet ilegal," ujar seorang pejabat dinas. Namun, petani seperti Pak Darmo masih skeptis. Di atas tanah yang subur namun tak berpihak, mereka harus bertahan hidup di tengah derasnya arus impor. Sementara itu, pabrik di seberang terus beroperasi, menciptakan kontras tajam dengan keheningan kebun-kebun karet di Sanggau yang mulai ditinggalkan.
Di garis depan negeri ini, di mana tanah air bertemu dengan negara tetangga, petani karet adalah garda terdepan yang menjaga kedaulatan ekonomi. Namun, tanpa perlindungan yang nyata, mereka hanya menjadi penonton di negeri sendiri. Sudah saatnya kita semua, sebagai bangsa, tidak hanya melihat perbatasan sebagai titik rawan, tetapi juga sebagai denyut nadi kehidupan yang harus diperjuangkan. Setiap tetes getah yang menetes dari pohon karet di Sanggau adalah bukti bahwa para petani di ujung negeri ini masih berjuang—dan mereka layak mendapatkan kepedulian kita semua.