Embun pagi masih menggantung di dedaunan nipah ketika derap sepatu boot prajurit TNI menyapa jalanan berbatu di Pulomerak, Cilegon — wilayah pesisir yang menjadi bagian dari garis terdepan pertahanan laut Indonesia. Di sebuah gubuk berdinding kayu lapuk dan beratap seng yang sudah berkarat, asap dapur tipis mengepul, menandai kehidupan seorang janda paruh baya yang bertahan di tengah gempuran angin laut. Inilah lokasi sasaran Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-128 Kodim 0623/Cilegon, di mana sebuah rumah tidak layak huni atau rutilahu siap dibangkitkan dari keterpurukan. Suasana pagi itu bukan hanya tentang dinginnya udara laut, tapi juga hangatnya semangat gotong royong yang dibawa puluhan prajurit yang datang dengan peralatan sederhana dan tekad membaja.
Potret Gotong Royong di Tepian Negeri
Di bawah terik matahari yang mulai menyengat, wajah-wajah penuh peluh itu bergerak lincah. Mereka bukan sedang berlatih perang, tetapi berperang melawan ketidaklayakan hunian. Tangga bambu disandarkan, palu mulai berdentang, dan lembaran seng baru menggantikan atap yang bocor. "Rumah ini sudah seperti mau roboh kalau hujan deras atau angin kencang," ucap Sarminah (56), sang janda pemilik rumah, dengan suara bergetar penuh haru. Matanya berkaca-kaca menyaksikan prajurit TNI — yang biasanya ia lihat menjaga pos perbatasan — kini dengan telaten membetulkan setiap kerusakan. Kegiatan rehabilitasi ini fokus pada perbaikan mendasar yang selama ini menjadi momok: struktur atap yang sudah melengkung, dinding kayu yang keropos dimakan rayap, dan lantai tanah yang becek saat hujan. Detail pekerjaan yang dilakukan mencakup:
- Penggantian atap: Seluruh rangka atap kayu yang lapuk diperkuat dan ditutup seng baru agar tahan cuaca ekstrem pesisir.
- Perbaikan dinding: Papan kayu yang sudah rapuh diganti dan dipelitur ulang untuk melindungi dari angin laut yang korosif.
- Perkuatan struktur: Pondasi dan tiang penyangga diperiksa dan dikonsolidasi untuk memastikan keamanan penghuni.
- Perbaikan fasilitas dasar: Saluran udara dan pencahayaan alami dioptimalkan untuk kesehatan penghuni.
Setiap paku yang tertancap, setiap papan yang terpasang, bukan sekadar materi, melainkan jahitan baru pada harapan yang sempat koyak. Warga sekitar yang menyaksikan perlahan mulai bergabung, membentuk lingkaran solidaritas khas masyarakat garis depan — di sini, di Pulomerak, gotong royong adalah nafas kedua.
Lebih Dari Sekadar Bantuan Fisik: Membangun Kepercayaan di Garis Depan
Program TMMD ke-128 di Cilegon ini mengajarkan satu pelajaran penting: membangun di wilayah perbatasan dan pesisir seperti Pulomerak bukan hanya tentang material, tapi tentang kehadiran negara yang nyata. Bagi warga yang sering merasa terisolasi secara geografis dan sosial, kedatangan prajurit TNI dengan seragam lorengnya adalah simbol bahwa mereka tidak dilupakan. "Selama ini kami hanya lihat TNI jaga pos di pelabuhan, tapi sekarang mereka ada di sini, membantu ibu kami seperti keluarga sendiri," kata Rudi, tetangga Sarminah, yang ikut menyediakan minuman untuk para prajurit. Interaksi sederhana ini mencairkan sekat, mengubah persepsi TNI dari sekadar penjaga keamanan menjadi mitra membangun yang empatik. Rehabilitasi rutilahu milik janda ini menjadi bukti konkret bahwa misi TNI bersifat multidimensi: di satu sisi menjaga kedaulatan teritorial, di sisi lain memastikan kesejahteraan warga di ujung negeri tetap terjaga. Dalam bahasa mereka, ini adalah bentuk 'pertahanan sosial' — ketika warga merasa aman dan sejahtera di rumahnya sendiri, ketahanan nasional di garis depan akan menguat secara organik.
Dampaknya pun melampaui fisik rumah. Sarminah, yang selama ini kerap cemas dengan kondisi tempat tinggalnya, kini bisa bernapas lega. "Rasa takut atap jebol atau dinding roboh sudah hilang. Saya bisa tidur nyenyak," ujarnya sambil tersenyum. Perasaan aman dan nyaman ini adalah fondasi psikologis yang tak ternilai, terutama bagi warga rentan di daerah yang sering menghadapi tantangan alam dan keterbatasan akses. Program TMMD menunjukkan bahwa keberpihakan pada yang lemah adalah esensi dari bela negara, diwujudkan melalui aksi nyata di lapangan, bukan sekadar wacana.
Matahari mulai condong ke barat, memantulkan kilauan seng baru di atap rumah Sarminah yang telah berubah wajah. Para prajurit membersihkan peralatan, sementara warga berkumpul, mengobrol hangat layaknya keluarga. Di sudut lain Pulomerak, ombak terus menyapu bibir pantai, mengingatkan bahwa ini adalah wilayah terdepan Indonesia. Kehadiran TNI melalui program membangun seperti TMMD ke-128 di Cilegon ini adalah seruan sekaligus pengingat: garis depan negara bukan hanya tentang pagar teritorial dan pos pengawasan, tetapi juga tentang kekuatan masyarakat yang berdiam di dalamnya. Setiap rumah yang diperbaiki, setiap senyum yang terpulihkan, adalah batu bata kokoh dalam tembok pertahanan bangsa. Mari kita terus peduli, karena di balik setiap dinding yang kokoh di perbatasan, terdapat hati warga Indonesia yang berdetak untuk tanah air.