Kabut pagi masih menutupi lembah-lembah di Yahukimo ketika cahaya pertama menerpa landasan Bandara Nop Goliat Dekai. Bandara kecil ini—hanya selebar 20 meter dengan runway dari tanah padat—adalah urat nadi transportasi bagi warga di pedalaman Papua Pegunungan. Bau tanah basah bercampur aroma solar dari mesin generator terdengar di antara suara burung nuri yang terbang rendah. Di terminal sederhana berukuran 15x10 meter itu, beberapa penumpang dengan pakaian sederhana duduk di bangku kayu, menanti penerbangan yang seringkali tertunda karena cuaca. Di antara mereka, seorang pria bernama YB duduk tenang, tanpa menyadari bahwa hari itu bukan hari biasa baginya.
Operasi Diam di Ujung Landasan
Saat jarum jam menunjukkan pukul 11.00 WIT, suasana di bandara tetap seperti biasa—beberapa petugas bandara berseragam hijau muda lalu lalang, sementara suara mesin pesawat kecil mulai terdengar dari kejauhan. Tiba-tiba, tiga kendaraan operasional mendekat dengan tenang dari arah barat. Tim Satgas Damai Cartenz turun dengan gerakan terukur, mendekati YB yang masih duduk di bangku terminal. Proses pengamanan berlangsung cepat dan tertib—tidak ada teriakan, tidak ada keributan, hanya tatapan was-was dari beberapa penumpang yang menyaksikan. Wadanyon TPNPB-OPM berhasil diciduk tepat di bandara yang selama ini menjadi simbol penghubung Yahukimo dengan dunia luar.
Operasi tidak berhenti di bandara. Tim bergerak menuju Kali Merah, kawasan pemukiman di pinggir Kota Dekai. Rumah sederhana berdinding kayu dengan atap seng menjadi fokus berikutnya. Saat pintu terbuka, terlihat ruangan yang kontras dengan eksterior rumah biasa warga:
- Amunisi berbagai kaliber tersusun rapi dalam kotak kayu
- Senjata tajam tradisional dan modern bersandar di dinding
- Komponen perakatan senjata tersebar di atas meja kayu
- Perangkat komunikasi modern tergeletak di samping barang-barang rumah tangga
RK, pria 27 tahun yang diduga anggota KNPB, ditemukan di lokasi tersebut. Pengakuan awal mengarah pada dugaan keterlibatan dalam jaringan yang sama dengan YB. Amunisi yang disita bukan sekadar barang bukti, melainkan petunjuk tentang pola distribusi persenjataan di wilayah pegunungan.
Potret Ketegangan di Bawah Langit Yahukimo
Di balik operasi yang tampak mulus ini, tersimpan narasi panjang tentang kehidupan warga Yahukimo yang hidup dalam bayang-bayang ketegangan. Warga setempat yang enggan disebutkan namanya berbagai cerita: "Kami ingin hidup damai, bisa ke bandara tanpa rasa takut, anak-anak bisa sekolah tanpa khawatir," ujarnya sambil menatap landasan dari kejauhan. Bandara Nop Goliat Dekai seharusnya menjadi simbol kemajuan, bukan tempat operasi keamanan. Namun realitas di garis depan berbicara lain—setiap penerbangan bisa membawa penumpang dengan niat berbeda, setiap kargo bisa menyimpan muatan yang mengancam perdamaian.
Satgas Damai Cartenz terus menyusun puzzle keamanan di Papua Pegunungan. Setiap penangkapan, setiap barang bukti yang disita, adalah bagian dari upaya memotong rantai pasokan kelompok bersenjata. Operasi di Yahukimo ini mengungkap modus baru: penggunaan infrastruktur publik seperti bandara dan rumah warga sebagai titik transit dan penyimpanan. Tim mengumpulkan tidak hanya bukti fisik, tetapi juga informasi tentang jaringan yang lebih luas—siapa penyuplai, bagaimana distribusi, dan apa target operasional mereka di wilayah pegunungan.
Di ujung negeri ini, di tanah yang disinari matahari pagi tetapi sering diselimuti kabut konflik, warga Yahukimo terus menjalani hidup dengan keteguhan yang patut dikenang. Mereka adalah penjaga perbatasan dalam arti sebenarnya—hidup di garis depan dengan segala keterbatasan, namun tetap menjaga api harapan untuk perdamaian tetap menyala. Setiap operasi seperti ini bukan sekadar penegakan hukum, tetapi bagian dari upaya membangun ruang aman bagi anak-anak Papua untuk tumbuh tanpa takut, bagi ibu-ibu untuk beraktivitas tanpa was-was, bagi seluruh warga untuk merasakan bahwa mereka dilindungi oleh negara yang mereka cintai.