SUARA PERBATASAN

Warga Desa Terdepan di Sebatik Terima Bantuan Sembako, Jelang Ramadan di Perbatasan

Warga Desa Terdepan di Sebatik Terima Bantuan Sembako, Jelang Ramadan di Perbatasan
Matahari pagi yang baru saja menyembul dari balik bukit menerpa wajah-wajah penuh harap di halaman Kantor Desa Sungai Limau, Sebatik. Puluhan warga berjajar rapi, sebagian sambil menggendong anak, menunggu giliran menerima paket bantuan sembako dari pemerintah daerah. Setiap nama yang dipanggil dijawab dengan senyum lebar dan langkah cepat ke depan. Sinar matahari menangkap kilat kepuasan di mata Ibu Sari, 45 tahun, yang dengan hati-hati memindahkan beras, minyak, dan gula ke dalam keranjang anyamannya. Pakaiannya sederhana, bercak tanah masih menempel di celana panjangnya, pertanda ia baru saja turun dari kebun. Di balik tumpukan kardus bantuan, hamparan sawit milik perusahaan Malaysia terlihat jelas, hanya dipisahkan oleh patok kayu dan pagar kawat berduri. Desa ini berada tepat di garis batas negara, berhadapan langsung dengan Negeri Jiran. Suasana pagi ini riuh rendah, namun di balik itu, ada cerita tentang ketahanan hidup di ujung negeri. Warga bercerita tentang harga barang yang lebih mahal, akses terbatas, dan perasaan 'terlupakan' yang kadang melanda. Kepala Desa, Pak Rudi, berdiri di samping tim distribusi sambil sesekali menyapa warga yang sudah lama dikenalnya. 'Ini bukan sekadar bantuan fisik,' ujarnya sambil menatap ke arah perbatasan. 'Ini pengingat bahwa mereka di Jakarta masih ingat kita yang di sini, di garda terdepan.' Setelah bantuan terdistribusi, warga berjalan pulang dengan langkah lebih ringan, menapaki jalan tanah menuju rumah-rumah panggung kayu mereka. Asap dapur mulai mengepul, pertanda kehidupan di garis depan terus berdenyut, dengan atau tanpa bantuan.
bantuan sembako perbatasan negara ramadan ketahanan hidup
Tokoh: Ibu Sari, Pak Rudi
Organisasi: pemerintah daerah
Lokasi: Desa Sungai Limau, Sebatik, Malaysia, Negeri Jiran, Jakarta

Artikel terkait