Lembah Suruh Tembawang di Entikong masih terlelap dalam kabut pagi ketika denting ember dan gesekan tong plastik besar mulai mengisi udara. Barisan tong biru, kuning, dan hitam — bak pahatan kesabaran — berjejer rapi di belakang rumah panggung kayu yang lapuk. Di garis batas negara yang memisahkan Indonesia dengan Sarawak, Malaysia, ritual harian sudah dimulai: warga menyiapkan setiap jengkal atap seng berkarat, setiap talang bocor, untuk menadah berkah dari langit. Sementara di kejauhan, di seberang pagar perbatasan, siluet menara air dan pipa-pipa besar menjadi pengingat diam tentang sebuah kebutuhan dasar yang masih menjadi krisis abadi di sisi kita.
Potret "Bank Air" di Ujung Negeri
Pemandangan di Desa Suruh Tembawang, Entikong, adalah alegori hidup tentang ketahanan dan kekurangan. Tong-tong plastik itu bukan sekadar wadah; mereka adalah "bank air" yang menyimpan cadangan kehidupan. Saat langit kelabu menggantung, seluruh anggota keluarga — dari nenek hingga cucu — bergegas. Ember, baskom, panci, dan segala wadah yang ada dikerahkan. Tetesan pertama yang jatuh dari atap seng adalah suara harapan. Air hujan yang mengalir melalui talang karatan ditampung dengan cermat, disaring seadanya, untuk kemudian direbus dan dijadikan santapan sehari-hari. Seorang ibu paruh baya, Sari, dengan tangan terampil menuangkan air jernih dari ember besar ke dalam cerek. "Sudah puluhan tahun begini," ucapnya, suaranya lirih namun tegar, sementara matanya sesekali menoleh ke arah perbatasan, ke arah negeri tetangga dimana keran mengalir tanpa henti.
Antrean Jeriken dan Ironi di Garis Depan
Kehidupan di Entikong memiliki irama sendiri, yang diatur oleh ketersediaan air bersih. Aktivitas pagi dan sore seringkali diwarnai oleh pemandangan berikut:
- Antrean panjang di satu-satunya kran umum, yang airnya kerap datang tidak menentu.
- Pemuda-pemuda dengan jeriken terikat di atas sepeda motor, berkonvoi mencari sumber air yang mungkin masih mengalir.
- Sumur bor yang digali dengan harapan, hanya menghasilkan air payau atau kering di musim kemarau.
Masalah ini bukan sekadar kisah tentang kekurangan air. Ini adalah potret nyata dari kesenjangan layanan dasar yang masih menganga lebar di banyak wilayah perbatasan. Gapura megah Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Entikong berdiri gagah, simbol kedaulatan yang teguh. Namun, beberapa ratus meter di belakangnya, cerita heroik sehari-hari justru ditulis oleh ibu-ibu yang menjunjung ember, bapak-bapak yang mendorong gerobak air, dan anak-anak yang belajar bahwa air hujan adalah anugerah yang harus disyukuri. Krisis ini berbicara tentang ketahanan, tetapi juga tentang janji yang masih menunggu untuk dipenuhi.
Mereka yang berdiam di bibir negeri ini, dengan segala keterbatasannya, justru adalah penjaga paling setia dari setiap jengkal tanah Indonesia. Semangat mereka tak pernah surut, meski yang mereka terima seringkali hanya tetesan dari langit. Setiap tong yang terisi, setiap tegukan air rebusan, adalah bukti ketegaran hati warga perbatasan. Maka, sudah sepatutnya kita, yang hidup dengan keran yang selalu basah, untuk tidak pernah melupakan pergulatan mereka. Kepedulian kita, perhatian kita, dan langkah nyata untuk membawa keadilan air bersih hingga ke pelosok terdepan, adalah bentuk balas budi yang paling hakiki kepada para penjaga kedaulatan di Entikong dan seribu perbatasan lainnya. Mereka berjuang untuk seteguk air; marilah kita berjuang untuk memastikan perjuangan mereka tidak lagi sendiri.